Translate

Senin, 22 April 2013

sagu kendari

Kami membuka peluang kerja sama sistim fee dengan Anda mendapatkan harga petani yaitu Rp.1.500/kg I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman sagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu komoditi bahan pangan yang banyak mengandung karbohidrat, sehingga sagu merupakan bahan makanan pokok untuk beberapa daerah di Indonesia seperti Maluku, Irian Jaya dan sebagian Sulawesi. Sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan yang antara lain dapat diolah menjadi bahan makanan seperti bagea, mutiara sagu, kue kering, mie, biskuit, kerupuk dan laksa (Harsanto, 1986). Luas areal tanaman sagu di Indonesia sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Beberapa literatur yang ada memberikan data yang berbeda-beda, tetapi berdasarkan perkiraan M. Yusuf Samad (2002) luas areal sagu di Indonesia sekitar. 1.000.0000 hektar. Pada tahun 2007 luas areal sagu di Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 5.607 hektar(BPS Sultra 2007). Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sagu yang cukup luas dengan sebagian penduduknya menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok atau pun bahan makanan tambahan. Luas areal tanaman sagu di Sulawesi Tenggara semakin berkurang karena banyaknya areal sagu yang dikonversi menjadi areal persawahan dan lokasi pemukiman. Sagu di Sulawesi Tenggara tumbuh pada tiga macam kondisi lingkungan tumbuh yang berbeda, yaitu : tanah kering, tanah rawa dan pinggir sungai. Tanaman sagu ditemukan paling banyak pada kondisi tanah rawa dan paling sedikit pada kondisi tanah pinggir sungai (Kanwil Perindustrian Sultra, 1995). Sagu yang tumbuh di Sulawesi Tenggara dikenal ada empat jenis sagu dengan nama lokal setempat, yaitu : runggamanu, rui, boruwila dan roe. Tiga jenis pertama merupakan jenis sagu yang berduri, sedangkan jenis sagu roe tidak berduri. Sagu jenis roe mempunyai aci yang putih dan rasanya enak sehingga jenis sagu ini yang banyak diolah oleh penduduk setempat untuk dijadikan sebagai bahan makanan (Haryanto dan Pangloli, 1992). Beberapa hasil penelitian yang dirangkum oleh Wahid (1987) menyimpulkan bahwa tanaman sagu mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya, yaitu : (1) pohon sagu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang berawa-rawa dimana tanaman lain tidak dapat tumbuh dengan baik; (2) panen tidak tergantung musim, tahan dan mudah dalam menyimpannya; (3) pohon sagu mengeluarkan anakan sehingga panen dapat berkelanjutan tanpa melakukan penanaman ulang. Meskipun tanaman sagu cukup penting di Sulawesi Tenggara, namun perhatian terhadap tanaman sagu tidaklah sebesar dengan perhatian mereka terhadap tanaman pangan lainnya. Sagu di Sulawesi Tenggara merupakan tumbuhan yang tumbuh dalam bentuk hamparan hutan yang dipelihara sebagaimana mestinya, sampai saat ini belum ada sagu yang dibudidayakan secara intensif. Sagu dapat tumbuh di daerah rawa atau tanah marginal (kahat hara) dimana penghasil karbohidrat lainnya sukar/sulit tumbuh dengan wajar. Di indonesia, khususnya di Sulawesi Tengara pada umumnya masyarakat setempat baru memanfaatkan aci sagu sebagai bahan pakan lokal/tradisional seperti : sinonggi, kapurung, bagea dan lain-lain, serta masyarakat Sulawesi Tenggara memanfaatkan daunnya sebagai bahan atap. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan dapat dirumuskan beberapa permasalahan : 1. Jenis-jenis sagu apa saja yang terdapat di Kecamatan Abeli Kota Kendari Sultra? 2. Jenis-jenis sagu apa saja yang paling dominan di Kecamatan Abeli Kota Kendari Sultra? 3. Jenis-jenis sagu apa saja yang berpotensi untuk dikembangkan di Kecamatan Abeli kota Kendari Sultra? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis sagu yang terdapat di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Kegunaan penelitian ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam mengoptimalkan produksi tanaman sagu (Metroxylon sp) dan merupakan bahan pembanding pada penelitian selanjutnya. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Sagu (Metroxylon spp) termasuk tumbuhan monokotil dari famili Palmae, marga Metroxylon dan ordo Spadiciflorae (Ruddie et al., 1976) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Metroxylon berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, yaitu Metra berarti isi batang atau empelur dan xylon yang berarti xylem (Flach, 1977). Secara garis besar sagu digolongkan dalam dua golongan, yaitu yang berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthic) dan yang berbunga atau berbuah lebih dari sekali (Pleonanthic) (Deinum, 1984 dalam Djumadi, 1989). Golongan pertama mempunyai nilai ekonomi yang penting karena kandungan acinya tinggi. Golongan ini terdiri dari lima jenis yaitu : (1) metroxylon sagus Rottb.; (2) Metroxylon rumphii Mart.; (3) Metroylon micracanthum Mart.; (4) Metroxylon Longispinum Mart. (5) Metroxylon sylvestre Mart. Sedangkan golongan kedua terdiri dari spesies Metroxylon filarae dan Metroxylon elatum yang banyak tumbuh di dataran yang relatif tinggi. Golongan ini nilai ekonominya rendah karena kandungan acinya kurang. Karateristik dari masing-masing jenis sagu yang tumbuh di Sulawesi Tenggara dengan ciri morfologi sebagai berikut: 1. Runggamanu atau Tuni Tinggi batang sekitar 10 – 15 meter, tebal kulit 2 -3 cm. Daunnya berwarna hijau tua dengan tangkai daun berwarn hijau kekuningan. Panjang tangkai daun sekitar 6,85 meter, sedangkan pnjang pelepah daun sekitar 2,71 meter, tangkai daun berduri pada pangkal sampai ujung pinggiran daun. Pada anakan sagu durinya sangat banyak dan rapat. Setiap tangkai daun terdiri atas 100-200 helai daun dengan panjang 151-155 cm dan lebar 8,1-9,1 cm (Tenda et al. 2003). Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) produksi tepung sagu tuni di Sulawesi Tenggara dapat mencapai 250-300 kg. Sagu ini merupakan jenis sagu yang paling besar ukurannya dibandingkan dengan jenis lainnya (Manan et al. 1984) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). . 2. Roe atau Molat Tinggi batang sekitar 10-14 meter, diameter sekitar 40-60 cm dan berat batang mencapai 1,2 ton atau lebih. Jenis sagu ini tidak berduri, ujung daun panjang meruncing sehingga dapat melukai orang bila menyentunya. Letak daun berjauhan, panjang tangkai daun sekitar 4-6 meter, panjanhg lembaran daun sekitar 1,5 meter dan lebernya sekitar 7 cm. Bunganya adalah bunga majemuk berwarna sawo matang kemerah-merahan. Empulurnya lunak dan berwarna putih. Berat empulur sekitar 80% dari berat batang dan kandungn acinya sekitar 18%. Setiap pohon dapat menghsilkan aci basah sekitar 800 kg atau sekitar 200 kg aci kering (Haryanto dan Pangloli, 1992). 3. Barowila Jenis sagu ini mempunyai tinggi batang sekitar 10 meter dengan dimeter sekitar 40-50 cm. Pelepah berwarna hijau keputih-putihan, empulurnya lunak dan berwarna putih. Setiap pohon dapt menghasilkan sekitar 120 kg aci kering. Produksi tepung sagu jenis barowila sangat sedikit jika dibandingkan dengan jenis sgu lainnya (Haryanto dan Pangloli, 1992). 4. Rui atau Rotan Jenis sagu ini dicirikan dengan tinggi batang yang relatif lebih pendek yaitu 7,20 meter, dengan diameter batang sekitar 40 cm. Panjang tangkai daun dapat mencapai 6,07 meter, sedangkan panjang pelepah daun sekitar 3,56 meter. Setiap tangkai daun terdiri atas 100-200 helai daun yang berwarna hijau dengan panjang daun antara 130-147 cm dan lebar daun 6-7 cm. Sagu ini memiliki empulur agak keras, mengandung banyak serat, dan berwarna kemerh-merahan serta kandungan aci paling sedikit (Tenda et al. 2003). Kandungan aci dalam empulur hanya sekitar 200 kg per pohon dan rasanya kurng enak (soerjono, 1980) dalam Harynto dan Pangloli (1992). B. Morfologi sagu Sagu tumbuh dalam bentuk rumpun. Setiap rumpun terdiri dari 1-8 batang sagu, pada setiap pangkal tumbuh 5-7 batang anakan. Pada kondisi liar rumpun sagu akan melebar dengan jumlah anakan yang banyak dalam berbagai tingkat pertumbuhan (Harsanto, 1986). Lebih lanjut Flach (1983) dalam Djumadi (1989) menyatakan bahwa sagu tumbuh berkelompok membentuk rumpun mulai dari anakan sampai tingkat pohon. Tajuk pohon terbentuk dari pelepah yang berdaun sirip dengan tinggi pohon dewasa berkisar antara 8-17 meter tergantung dari jenis dan tempat tumbuhnya. C. Batang Batang sagu merupakan bagian terpenting karena merupakan gudang penyimpanan aci atau karbohidrat yang lingkup penggunaannya dalam industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, alkohol dan bermacam-macam industri lainnya (Haryanto dan Pangloli, 1992). Batang sagu berbentuk silinder yang tingginya dari permukaaan tanah sampai pangkal bunga berkisar 10-15 meter, dengan diameter batang pada bagian bawah dapat mencapai 35 samapi 50 cm (Harsanto, 1986), bahakan dapat mencapai 80 sampai 90 cm (Haryanto dan Pangloli, 1992). Umumnya diameter batang bagian bawah agak lebih besar daripada bagian atas, dan batang bagian bawah umumnya menagndung pati lebih tinggi daripada bagian atas (Manuputty, 1954 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992) Pada waktu panen berat batang sagu dapat mencapai lebih dari dari 1 ton, kandungan acinya berkisar antara 15 sampai 30 persesn (berat basa), sehingga satu pohon sagu mampu menghasilkan 150 sampai 300 kg aci basah (Harsanto, 1986; Haryanto danPangloli, 1992). D. Daun Daun sagu berbentuk memanjang (lanceolatus), agak lebar dan berinduk tulang daun di tengah, bertangkai daun dimana antara tangkai daun dengan lebar daun terdapat ruas yang mudah dipatahkan (Harsanto, 1986). Daun sagu mirip dengan daun kelapa mempunyai pelepah yang menyerupai daun pinang. Pada waktu muda, pelepah tersusun secara berlapism tetapi setelah dewasa terlepas dan melekat sendiri-sendiri pada ruas batang (Harsanto, 1986; Haryanto dan Pangloli, 1992). Menurut Flach (1983) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) menyatakan bahwa sagu yang tumbuh pada tanah liat dengan penyinaran yang baik, pada umur dewasa memiliki 18 tangkai daun yang panjangnya sekitar 5 sampai 7 meter. Dalam setiap tangkai sekitar 50 pasang daun yang panjangnya bervariasi antara 60 cm sampai 180 cm dan lebarnya sekitar 5 cm. Pada waktu muda daun sagu berwarna hijau muda yang berangsur-angsur berubah menjadi hijau tua, kemudian berubah lagi menjadi coklat kemerah-merahan apabila sudah tua dan matang. Tangkai daun yang sudah tua akan lepas dari batang (Harsanto, 1986). E. Bunga dan Buah Tanaman sagu berbunga dan berbuah pada umur sekitar 10 sampai 15 tahun, tergantung jenis dan kondisi pertumbuhannya dan sesudah itu pohon akan mati (Brautlecht, 1953 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992). Flach (1977) menyatakan bahwa awal fase berbunga ditandai dengan keluarnya daun bendera yang ukurannya lebih pendek daripada daun-daun sebelumnya. Bunga sagu merupakan bunga majemuk yang keluar dari ujung atau pucuk batang sagu, berwarna merah kecoklatan seperti karat (Manuputty, 1954 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992). Sedangkan menurut Harsanto (1986), bunga sagu tersusun dalam manggar secara rapat, berkuran secara kecil-kecil, waranya putih berbentuk seperti bunga kelapa jantan dan tidak berbau. Bunga sagu bercabang banyak yang terdiri dari cabang primer, sekunder dan tersier (Flach, 1977). Selanjutnya dijelaskan bahwa pada cabang tersier terdapat sepasang bunga jantan dan betina, namun bunga jantan mengeluarkan tepung sari sebelum bunga betina terbuka atau mekar. Oleh karena itu diduga bahwa tanaman sagu adalah tanaman yang menyerbuk silang, sehingga bilamana tanaman ini tumbuh soliter jarang sekali membentuk buah. Bilamana sagu tidak segera ditebang pada saat berbunga maka bunga akan membentuk buah. Buah bulat kecil, bersisik dan berwarna coklat kekuningan, tersusun pada tandan mirip buah kelapa (Harsanto, 1986). Waktu antara bunga mulai muncul sampai fase pembentukan buah diduga berlangsung sekitar dua tahun (Haryanto dan Pangloli, 1992). F. Lingkungan Tumbu Tanaman Sagu Tanaman sagu merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah khatulistiwa, di daerah tepi pantai dan sepanjang aliran sungai pada garis lintang antara 10˚ LU dan 10˚ LS dan pada ketinggian 300 sampai 700 meter di atas permukaan laut (dpl), mempunyai curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun (Tan, 1982; Harsanto, 1986). Menurut Harsanto (1986) bahwa jumlah curah hujan yang menguntungkan bagi pertumbuhan sagu diduga antara 2000 sampai 4000 mm per tahun, tersebar merata sepanjang tahun dengan temperatur rata-rata 24˚C sampai 30˚C. Lingkungan yang baik untuk pertumbuhan sagu adalah daerah yang berlumpur, dimana akar napas tidak terendam, kaya mineral dan bahan organik, air tanah berwarna cokelat dan bereaksi agak asam (Flach, 1977). Selanjutnya dikatakan habitat yang demikian cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman sagu. Pada tanah-tanah yang tidak cukup mengandung mikroorganisme pertumbuhan sagu kurang baik. Selain itu pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar terutama unsur P, K, Ca, dan Mg. Apabila akar napas sagu terendam terus menerus, maka pertumbuhan sagu terhambat dan pembentukan aci atau karbohidrat dalam batang juga terhambat. Selain kondisi tersebut di atas, sagu juga dapat tumbuh pada tanah-tanah organik akan tetapi sagu yang tumbuh pada kondisi tanah demikian menunjukkan berbagai gejala kekahatan beberapa unsur hara tertentu yang ditandai dengan kurangnya jumlah daun dan umur sagu akan lebih panjang yaitu sekitar 15 sampai 17 tahun (Flach, 1977). Sagu banyak juga yang tumbuh dengan baik secara alamiah pada tanah liat yang berwarna dan kaya akan bahan-bahan organik seperti di pinggir hutan mangrove atau nipah. Selain itu, sagu juga dapat tumbuh dengan tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya (Manan et al., 1984 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992). III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Penelitian ini berlangsung dari bulan April sampai Juni 2008. B. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kertas, sedangkan alat yang digunakan meliputi; kamera, meteran, alat tulis, alat untuk mengidentifikasi penyebaran tanaman sagu. C. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yaitu survei bebas. Penentuan wilayah yaitu wilayah Kecamatan Abeli yang ditumbuhi tanaman sagu dan kriteria sagu unggul adalah usia panen tidak lebih dari 11 tahun, populasi batang per rumpun lebih dari 15 batang, produksi sagu basah minimal 200 kg/batang. D. Prosedur Penelitian Variabel yang akan diamati meliputi : 1. Batang (tinggi, diameter dan ketebalan kulit) 2. Daun (bentuk, warna, panjang, duri) 3. Jumlah anakan (kurang, sedang, banyak) 4. Usia panen dan produksi per batang. E. Analisis Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara statistik deskripsi. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa ada tiga jenis sagu yang tersebar di Kec. Abeli yaitu Tuni/Runggumanu (Metroxylon Rumphii Martius), Molat/Roe (Metroxylon Sagus Rottbol) dan Rotan/rui (Metoxylon Microcanthum Martius) Ciri-ciri dari ketiga jenis sagu tersebut adalah: 1. Metroxylon Rumphii Martius. Tinggi batang sekitar 10-15 cm bahkan dapat mecapai 18 meter atau lebih, dan tebal kulit sekitar 2-3 cm. Kulit pada bagian pangkal batang lebih tebal dari pada kulit pada bagian tengah atau bagian ujung batang. Diameter sekitar 40-60 cm. Daun berwarna hijau tua, dan panjang tangkai daun sekitar 5-7 meter. Tangkai daun berduri pada pada pangkal sampai ujung, juga pada bagian daunnya. Panjang duri sekitar 1-4 cm pada anakan sagu durinya sangat banyak dan rapat. Setiap tangkai daun terdiri dari 100-200 anak daun yang panjangnya 80-120 cm dan lebarnya 5-10 cm. Berat batang pada umur panen lebih 1 ton. Empulurnya lunak dan mudah di tokok. Kadar empulurnya sekitar 82% dari berat batang dan dan kandungan aci sekitar 20%. acinya berwarna putih dan enak rasanya. Setiap pohon dapat menghasilkan 170-500 kg aci kering (Soerjono,1980) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) sagu ini merupakan jenis sagu yang paling besar ukurannya dibandingkan denga jenis lainnya (Manan, dkk. 1984) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). 2. Metroxylon Sagus Rottbol. Tinggi batang sekitar 10-14 meter, tidak berduri, diameter sekitar 40-60 cm dan berat batang sekitar 1,2 ton atau lebih. Jenis sagu ini tidak berduri, ujung daun meruncing sehingga dapat melukai orang jika tersentuh. Panjang daun sekitar 7,40 meter yang tersusun atas 100-200 helai daun berwarna hijau dengan panjang berkisar antara 1,54-1,55 meter dan lebar 9 cm. Bunganya adalah bunga majemuk berwarna sawo matang kemerah-merahan. Empulurnya lunak dan berwarna putih, oleh karena itu acinya berwarna putih dan rasanya enak dan disukai penduduk. Berat empulur sekitar 80% dari berat batang dan kandungan acinya sekitar 18% (Rumalatu, 1981) dalam Haryanto dan Pangaloli. (1992). Setiap pohon dapat menghasilkan aci basah sekitar 800 kg atau sekitar 200 kg aci kering (Manuputy, 1954 dan Soeryono, 1980) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Tenda et. al. (2003) menerangkan bahwa produksi tepung dari sagu molat dapat mencapai 400 Kg. 3. Metroxylon Micracanthum Martius. Tinggi batang sekitar 8 meter, dan diameter sekitar 40 cm. Panjang tangkai daun sekitar 6 meter sedangkan panjang pelepah daun sekitar 3,56 meter. Setiap tangkai daun terdiri atas 100-200 helai daun yang berwarna hijau dengan panjang daun sekitar 130-147 cm dan lebar daun sekitar 8,6 cm. Pada tangkai daun terdapat banyak duri atau duar rapat dan pada pinggir daun penuh duri. Sagu rotan memiliki empulur agak keras, mengandung banyak serat dan berwarna kemerah-merahan serta kandungan aci paling sedikit hanya sekitar 200 kg dan rasanya kurang enak (Soerjono, 1980) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Tinggi Batang , Diameter Batang Dan Tebal Kulit Batang Tinggi batang, diameter batang dan tebal kulit disajikan pada tabel 1. Pada umumnya jenis sagu tuni memiliki tinggi batang tertinggi, diameter batang yang lebih besar dan mempunyai ketebalan kulit yang lebih tebal bila dibandingkan jenis sagu molat dan jenis sagu rotan. Tabel 1. Tinggi batang, diameter batang, tebal kulit batang berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. Parameter Batang Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Tinggi Batang (m) 10 11 8 11 10 8 11 10 9 12 11 9 Diameter batang (cm) 58.86 49.32 42.95 58.86 57.27 44.59 53.13 54.41 40.41 60.45 50.91 45.48 Tebal kulit batang (cm) 2,8 2,3 2,4 2,7 2,6 2,3 2,4 2,4 2,1 3 2,7 2,5 Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M Bentuk Daun, Warna Daun, Panjang Daun dan Duri Daun Bentuk daun, warna daun, panjang daun dan duri daun, disajikan pada tabel 2. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jenis sagu memiliki daun terpanjang dibandingkan dengan sagu molat sedangkan jenis sagu rotan memiliki panjang daun terpendek. Bentuk daun dari tiga jenis sagu ini yaitu menyirip. Warna daun jenis sagu tuni hijau tua, sedangkan warna daun jenis sagu molat dan sagu rotan berwarna hijau. Duri daun dari tiga jenis sagu ini berduri. Tabel 2. Bentuk daun, Warna daun, Panjang daun, Duri daun berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. Parameter Daun Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Bentuk daun Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Warna daun Hijau tua Hijau Hijau Hijau tua Hijau Hijau Hijau tua Hijau Hijau Hijau tua Hijau Hijau Panjang daun (m) 7,10 7 6,40 7 7,70 6,20 6,70 6,80 5,90 7,60 7,50 6,10 Duri daun Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Micracanthum M Jumlah Anakan Jumlah anakan disajikan pada tabel 3. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jenis sagu molat memiliki anakan yang terbanyak, sedangkan jenis sagu tuni memiliki anakan yang sedang dan hampir sama dengan jenis sagu rotan. Tabel 3. Jumlah anakan bebagai jenis sagu dari dari masing-masing lokasi penelitian Jumlah anakan Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Kurang √ √ √ Sedang √ √ √ √ √ Banyak √ √ √ √ Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M Usia Panen Usia panen disajikan pada tabel 4, tabel tersebut menunjukkan bahwa jenis sagu tuni memiliki usia panen yang lebih lama dan relatif sama dengan jenis sagu molat, sedangkan jenis sagu rotan memiliki usia panen yang lebih cepat. Tabel 4 Usia panen berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian Parameter Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Usia panen (umur) 10 10 9 11 10 8 10 9,5 8 12 10 10 Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M Produksi Perbatang Produksi perbatang disajikan pada tabel 5. tabel tersebut menunjukan bahwa jenis tunimemiliki produksi perbatang lebih tinggi di ikuti sagu molat, sedangkan jenis sagu rotan memiliki produksi perbatang yang ter rendah. Tabel 5. Produksi perbatang berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian Parameter produksi Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Berat tepung sagu biasa (Kg per 1 pohon) 450 400 150 500 450 200 400 400 200 500 450 250 Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M B. Pembahasan Hasil penelitian menunjukan bahwa sagu yang dominan adalah jenis sagu molat diikuti dengan jenis sagu tuni, dan jenis sagu rotan hampir punah. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) jenis sagu molat banyak disukai masyarakat karena acinya berwarna putih dan enak rasanya, disamping itu mudah dilakukan pengolahan karena jenis sagu ini tidak berduri dan empulurnya lunak sehingga mudah di tokok Jenis sagu rotan kurang disukai oleh masyarakat setempat karena sagu ini berduri rapat dapat melukai orang yang menyentuhnya. Disamping itu empulurnya agak keras dan banyak mengandung serat serta acinya berwarna kemerah-merahan dan rasanya kurang enak. Produksi sagu rotan hanya dapat mencapai 200 kg kandungan acinya. Menurut Harsanto (1986) jenis sagu yang paling rendah produksinya dibandingkan dengan jenis sagu lainnya. Jenis sagu tuni memiliki batang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu molat dan sagu rotan, demikian pula pada diameter batang kecuali pada jenis sagu rotan memiliki ukuran diameter batang yang kecil. Hal ini sesuai yang dinyatakan oleh Ramalutu (1985) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Bahwa jenis sagu tuni mempunyai ukuran tinggi batang 10-20 meter, dengan diameter 70-100 cm, selanjutnya Manan Dkk (1994). Dalam Haryanto dan Pangloli (1992) menyatakan bahwa jenis sagu tuni adalah jenis sagu yang paling besar ukurannya di bandingkan dengan jenis sagu lainnya. Sedangkan dengan jenis sagu molat ukurannya sedang dan dengan jenis sagu rotan diameter batangnya kecil. (Harsanto, 1986). Menurut Rumalatu (1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992 ) menyatakan bahwa perbedaan tinggi batang dari setiap jenis sagu pada tingkat umur dan lingkungan dan lingkungan yang sama tergantung dari sifat genetis dan kemampuan pertumbuhannya. Jenis sagu yang memiliki sifat genetis dan daya adaptasi terhadap lingkungan yahg baik akan memperlihatkan pertumbuhan yang baik pula. Jenis sagu tuni memiliki diameter batang terbesar, jenis sagu molat memiliki diameter batang sedang, dan jenis sagu rotan memiliki diameter batang yang lebih kecil. Hal ini sesuai yang dinyatakan Haryanto dan Pangloli (1992) yang menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki diameter batang 50-60 cm, jenis sagu molat memiliki diameter batang 40-60 cm dan jenis sagu rotan memiliki diameter batang sekitar 40 cm. Adanya perbedaan ukuran tersebut diduga adanya toleransi dan kemampuan suatu jenis sagu dalam memperoleh kebutuhan unsur hara, mineral, bahan organik dah kecocokan pH air tanah dalam suatu lingkungan tumbuh, dengan demikian jenis sagu yang mampu memenuhi kebutuhannya dalam jumlah maksimal akan menampakan pertumbuhan yang lebih baik. Harsanto (1986) menyatakan bahwa jenis sagu tuni mempunyai diameter yang paling besar, sagu molat mempunyai diameter batang sedang, dan jenis sagu rotan mempunyai batang diameter yang kecil. Jenis sagu tuni memiliki panjang daun yang paling panjang disusul dengan jenis sagu molat, dan jenis sagu rotan memiliki panjang daun yang paling pendek. Perbedaan ukuran daun tersebut disebabkan karena perbedaan sifat genetis dan morfologis dari ketiga jenis sagu (Haryanto dan Pangaloli, 1992 ). Jenis sagu molat memiliki jumlah anakan yang banyak, sedangkan jenis sagu tuni dan jenis sagu rotan jumlah anakannya relatif sama. Hal ini diduga ada hubungannya dengan jenis-jenis sagu tersebut dalam pengelolaannya. Pada jenis sagu molat sering dilakukan penebangan terhadap pohon yang siap panen secara terus menerus karena jenis sagu ini memiliki kandungan aci yang putih dan rasanya enak sehingga banyak disenangi dan disukai masyarakat (Haryanto dan Pangloli, 1992) hal ini mendorong anakan yang tumbuh dari induk yang di panen cenderung keluar untuk menjauhi induknya sehingga memperluas jumlah anaknya. Selanjutnya Haryanto dan Pangloli (1992) menjelaskan bahwa tanaman sagu akan menghasilkan anakan secara berurutan dengan pola anak beranak yang selanjutnya membentuk rumpun yang lebih luas. Jenis sagu rotan dibiarkan tumbuh secara liar dan tidak ada usaha pemeliharaan. Lebih lanjut Haryanto dan Pangloli (1992) menjelaskan bahwa populasi tanaman sagu tergantung dari jenis, daerah produksi dan perlakuan yang diberikan selama masa pertumbuhan dimana pertumbuhan sagu yang dipelihara atau dibudidayakan populasinya lebih padat dari pada yang tumbuh secara liar. Pada jenis sagu rotan usia panennya lebih cepat, kemudian diikuti jenis sagu molat, sedangkan usia panen pada jenis sagu tuni lebih lama. Hal tersebut berhubungan erat dengan tinggi batang dan jumlah daun, artinya batang yang tinggi dan daun yang banyak secara umum mempengaruhi usia sagu. Semakin banyak jumlah daun terbentuk dan tinggi batang lebih tinggi maka semakin lama usia panen yang dilakukan. Dengan demikian tinggi batang dan jumlah daun pada sagu jenis molat sangat mendukung untuk memiliki usia panen yang lebih panjang. Hasil ini sama dengan yang dilaporkan Haryanto dan Pangloli (1992) bahwa jenis sagu tuni memiliki usia panen yang lebih panjang dengan tinggi batang bahkan mencapai 18 meter. Adanya perbedaan usia sagu tersebut di duga kerena adanya perbedaan sifat morfologis dan kondisi linkungan tumbuh. Produksi aci sagu perbatang yang tertinggi terdapat pada jenis sagu tuni diikuti jenis sagu molat. Sedangkan jenis sagu rotan memiliki produksi aci sagu perbatang paling rendah, tingginya produksi jenis sagu tuni karena memiliki jumlah daun yang banyak dan tinggi batang yang relatif tinggi dibandingkan dengan jenis sagu lainnya. Menurut Flach (1977) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) menyatakan bahwa kandungan aci dalam batang sagu semakin lama semakin bertambah banyak dan apabila sagu mendapatkan sinar matahari yang cukup selama pertumbuhannya, kandungan aci dalam batangnya meningkat secara linear sampai terjadi pembentukan bunga. Selain faktor lingkungan kandungan aci dalam batang sagu dipengaruhi oleh umur dan jenisnya (Rumalatu, 1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Semakin besar ukuran diameter batang sagu maka aci yang dihasilkan semakin besar pula. Jumlah populasi sagu di Kecamatan Abeli Kota Kendari semakin berkurang karena sebagian wilayah tanaman sagu digunakan untuk daerah pemukiman, persawahan, tambak, dan kurangnya pemeliharaan pada tanaman sagu. Untuk mengatasi kepunahan tanaman sagu maka perlu diadakan pembudidayaan sagu dan memilih tanaman sagu yang mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan tumbuh dan keadaan iklim setempat. Jenis sagu yang cocok untuk dikembangkan dilokasi penelitian adalah jenis sagu molat dan jenis sagu tuni karena kedua jenis sagu ini memiliki keunggulan yaitu mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan tumbuh dan iklim setempat, empulurnya mudah ditokok, kadar empulurnya banyak dan rasanya enak, acinya berwarna putih. Hal ini sesuai yang dinyatakan Haryanto dan Pangloli (1992) bahwa jenis sagu tuni dan jenis sagu molat memiliki empulur yang lunak sehingga mudah ditokok, acinya berwarna putih, dan rasanya enak sehingga sangat disukai oleh penduduk setempat. Keunggulan lain dari kedua jenis sagu ini memiliki diameter batang yang lebih besar bila dibandingkan dengan jenis sagu lain, juga memiliki produksi yang lebih tinggi. V. KESIMPULAN DAN SARAN. A . Kesimpulan 1. Jenis-jenis sagu yang tersebar di Kecamatan Abeli Kota Kendari ada tiga jenis yaitu Tuni/Runggamanu (Metroxylon Rumphii Martius), olat/Roe (Metroxylon Sagus Rottbol ) dan Rotan/Rui (Mitroxylon Micrachantum Martius) 2. Jenis sagu yang dominan di Kecamatan Abeli Kota Kendari adalah jenis sagu molat. 3. Jenis sagu tuni mempunyai mempunyai batang yang lebih tinggi dengan lingar batang lebih besar dibandingkan dengan dua jenis sagu lainnya, sehingga produksi yang dihasilkan lebih tinggi. 4. Pada umumnya jumlah anakan dari ketiga jenis sagu relatif tidak merata sehingga jarak populasi dalam satu rumpun nampak tidak teratur. 5. Secara umum jenis sagu yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah jenis sagu molat dan jenis sagu tuni karena kedua jenis tersebut mempunyai kandungan aci yang tinggi. B. Saran Diharapkan kepada pemerintah, petani pengelola sagu serta pihak yang berkepentigan dalam pengembangan tanaman sagu terhadap jenis molat secara intensif maupun ekstensif guna memenuhi cadangan pangan serta untuk komersialisasi sagu di masa mendatang. DAFTAR ISI ABSTRAK i HALAMAN PENGESAHAN ii DAFTAR ISI iii DAFTAR TABEL iv I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan dan Kegunaan 3 II TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi 4 B. Morfologi Sagu 5 C. Batang 5 D. Daun 6 E. Bunga dan Buah 7 F. Lingkungan Tumbuh Tanaman Sagu 8 III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu 10 B. Bahan dan Alat 10 C. Metode Penelitian 10 D. Prosedur Kerja 10 E. Analisis Data 10 IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 11 B. Pembahasan 16 V PENUTUP A. Kesimpulan 22 B. Saran 22 DAFTAR PUSTAKA Harsanto, P.B., 1986. Budidaya dan Pengolahan Sagu. Kanisius. Yogyakarta. Haryanto, B. Dan Pangloli, P., 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius. Yogyakarta. Jumadi, A., 1989. Sistem Pertanian Sagu di Daerah Luwu Sulsel. Thesis Pasca Sarjana IPB. Bogor. Kantor Wilayah Perindustrian Sultra, 1983. Profil Pengembangan Industri Pengolahan Sagu. Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah. Kendari. Kantor Wilayah Perindustrian Sultra, 1995. Profil Pengambangan Industri Pengolahan Sagu. Kendari. Tenda, E.T, H.F. Mangindaan dan J. Kumaunang. Eksplorasi Jenis-Jenis Sagu Potensial di Sulawesi Tenggara. Makalah Poster Pada Seminar Nasional Sagu Untuk Ketahanan Pangan. Manado, 6 Oktober 2003. ABSTRAK La Siami (DIB11009). Identifikasi Jenis-Jenis Sagu (Metroxylon sp) di Kecamatan Abeli Kota Kendari. (Dibimbing oleh Dirvamena Boer sebagai Pembimbing I dan Muhidin sebagai Pembimbing II). Suatu penelitian untuk mengetahui jenis-jenis sagu dan sagu yang dominan di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis-jenis sagu yang ad di Kecamatan Abeli Kota Kendari terdiri dari tiga jenis yaitu Metroxylon rumphii Martius (tuni/ runggamanu), Metroxylon sagus Rottbol (molat/roe) dan Metroxylon micracanthum Martius (rotan/rui). Jenis sagu yang dominan penyebarannya adalah Metroxylon sagus Rottbol (molat/roe). Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki tinggi batang tertinggi, diameter batang terbesar dibandingkan dengan jenis sagu molat dan jenis sagu rotan. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki panjang daun yang terpanjang disusul sagu molat, sedangkan jenis sagu rotan memiliki panjang daun terpendek. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu molat memiliki jumlah anakan yang terbanyak disusul sagu tuni, sedangkan jenis sau rotan memiliki jumlah anakan yang kurang. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki usia panen lebih lama diikuti jenis sagu molat sedangkan jenis sagu rotan memiliki siap panen yang cepat. Jenis sagu tuni memiliki produksi perbatang yang tinggi diikuti jenis sagu molat sedangkan jenis sagu rotan memiliki produksi perbatang yang terendah. Dapat disimpulkan bahwa jenis sagu tuni dan jenis sagu molat mempunyai potensi untuk dikembangkan karena memiliki sifat genetis yang baik dan adaptasi terhadaplingkungan yang baik serta kandungan acinya lebih tinggi. HALAMAN PENGESAHAN Judul : Identifikasi Jenis-Jenis Sagu (Metroxylon sp) di Kecamatan Abeli Kota Kendari Nama : La Siami Stambuk : D1B1 01 009 Prog. Studi : Agronomi Jurusan : Budidaya Pertanian Fakultas : Pertanian Menyetujui : Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Dirvamena Boer, M.Sc. Agr. Ir. Muhidin, M.Si NIP. 131 956 602 NIP. 132 008 122 Mengetahui Ketua Program Studi Agronomi, Ir. Rachmawati Hasid, M.Si NIP. 131 960 78 DAFTAR TABEL No. Teks Halaman 1. Tinggi batang, diameter batang, tebal kulit batang, berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian 13 2. Bentuk daun, warna daun, panjang daun, duri daun, dan tipe pelepah daun, berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. 14 3. Jumlah anakan berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian 14 4. Usia panen berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian 15 5. Produksi perbatang berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. 15 raditcellular@gmail.com adimacpal@yahoo.co.id FB.Adi Macpal Hp.081-341-825-258 085-378-888-559

Tidak ada komentar:

Posting Komentar