Translate

Minggu, 28 April 2013

harga sagu kendari

http://www.datapenipu.com/cek-penipu/halaman-2.html sekedar peringatan buat sahabat sahabat DUMAY semua, hati hati bila kita mau belanja secara online, ni aa lampirkan bukti2 penipuan di toko online, semoga bermanfa'at. Data penipu : Nama HANRY REFAEL BCA A/C 5410326231 Mengaku dari Jakarta, mengaku juga dari Lembang , di thread jualan lainnya mengatakan bisa COD daerah Serang, Kebun Jeruk, Kebun Nanas (Tangerang) Nomor HP : 0877-7104-4420 0877-7548-7999 http://www.kaskus.co.id/post/517957744f6ea1ff45000006#post517957744f6ea1ff45000006 ID data : 2878 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : rifki Tanggl lapor : 25-Apr-2013 10:57 Data penipu : BURUAN BELANJA Di toko asia Diskon 50% aman & geransi balck berry samsung iphone laptop dll, PIN:BB 28B82391 www.asiaolshop.blogspot.com ID data : 2877 Validasi pelapor [HP : ok, email: ok] Pelapor : eva kurnia wati Tanggl lapor : 25-Apr-2013 10:22 Data penipu : jika di tokobagus.com namanya ahmaddzulfikrihamdan Member sejak : 23-01-2013 nomor HP 082344441037 BANK BRI A/N AGUS SETIAWAN no rek 3308-0100-1750-504. saya sudah transfer uang sejumlah 6,8jt pada tanggal 20-04-2013dan katanya barang sampai dirumah 1-2hari. modus penipuan memasang iklan kamera EOS 1100D dengan harga 3jt NEGO. akhirnya kami sepakat harga 2,5jt. kemudian kaka saya tanya kepada saya,dia mau membeli kamera CANON EOS650D singkat cerita melalui via sms kaka sya juga pesan kamera di orang yang sama dengan harga 4,8jt dan diberi nomer resi TIKI 022022524777. namun smpai saat ini tidak ada kiriman barang dan orangnya hanya bilang dalam proses,padahal saya cek di TIKI barang tersebut tidak ada. ID data : 2875 Validasi pelapor [HP : ok, email: ok] Pelapor : doni dewantoro Tanggl lapor : 25-Apr-2013 08:38 Data penipu : Penipu atas nama BUDI DARYONO 085230811499 Dari bisnis online "TOKO BAGUS" yang menjual sepeda listrik, dll. Cara menipu berani membawa nama Allah, setelah uang ditransfer barang tidak dikirim. Dengan alasan sepeda ditahan oleh pihak bandara. Dan minta uang lagi. Tolong tindak lanjutnya untuk pihak berwenang, untuk membasmi para penipu online. Makasih. Hp saya 08158064406 ID data : 2872 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Robby Haris Tanggl lapor : 25-Apr-2013 04:56 Data penipu : No HP: 087842300808 Web: http://tokobagushandpone.blogspot.com/ Lapak: http://tv-dan-audio-video.tokobagus.com/televisi/lg-42pa4500-42inch-plasma-tv-21096086.html Cara menipu: Menjual barang bagus tapi murah, tidak melayani COD karena barang BM. Waspada, jangan transfer dulu. ID data : 2869 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : abdus Tanggl lapor : 25-Apr-2013 04:36 Data penipu : nama pelaku : ADNAN no Hp :081998575645 no Rekening BRI : 010601017229538 saya tertipu di TOKOBAGUS.COM .saya membeli Blackberry seharga 715 ribu.sesudah saya transfer pelaku meminta uang lagi senilai 1 juta untuk membayar beacukai. setelah itu no pelaku tidak aktif lagi ? pelaku sok islam,samapi istigfar. ID data : 2868 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : abdus Tanggl lapor : 25-Apr-2013 04:32 Data penipu : nama pelaku : ADNAN no Hp :081998575645 no Rekening : 010601017229538 saya tertipu di TOKOBAGUS.COM .saya membeli Blackberry seharga 715 ribu.sesudah saya transfer pelaku meminta uang lagi senilai 1 juta untuk membayar beacukai. setelah itu no pelaku tidak aktif lagi ? pelaku sok islam,samapi istigfar. ID data : 2867 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Egfo Tanggl lapor : 25-Apr-2013 04:28 Data penipu : http://hadiahxl-ku.jimdo.com/ ID data : 2866 Validasi pelapor [HP : none, email: ok] Pelapor : Dedi Heru Cahyono Tanggl lapor : 25-Apr-2013 04:22 Data penipu : Hati-hati jika anda mendapat SMS yang mengatas namakan Telkomsel dengan iming-iming hadiah tertentu dan mengarahkan anda untuk melihat atau mengunjungi website http://www.tsel-poin-777.juplo.com/ ini adalah 100% penipuan, Telkomsel tidak memiliki website tersebut. Alamat website : http://www.tsel-poin-777.juplo.com/ Nomor telepon : 0016282315751197 atau 082315751197 ID data : 2865 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Dedi Heru Cahyono Tanggl lapor : 25-Apr-2013 04:18 Data penipu : Hati-hati jika anda mendapat SMS yang mengatas namakan Indosat dengan iming-iming hadiah tertentu dan mengarahkan anda untuk melihat atau mengunjungi website http://hadiah-indosatpoin2013.webs.com ini adalah 100% penipuan, Indosat tidak memiliki website tersebut. Alamat website : http://hadiah-indosatpoin2013.webs.com Nomor telepon : 085656257829 Nomor SMS : 081998245003 ID data : 2864 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : novan Tanggl lapor : 25-Apr-2013 02:59 Data penipu : nama : andre wijaya no : 083898095999 bank bni : 0292985061 jual ps 3 di kirim dvd doang tapi baru bayar dp 200k di tokobagus ID data : 2862 Validasi pelapor [HP : none, email: ok] Pelapor : GNGSAR WIDI NUGRAHA Tanggl lapor : 25-Apr-2013 02:54 Data penipu : ANTON BUDIANTO 081998000297 TOKO BAGUS BRI 12640100389503 SAYA MEMBELI LAPTOP BM SEHARGA 1,2 KEMUDIAN SAYA MELAKUKAN TRANSFER HARI RABU 24/4/2013 . HARI KAMIS 25/4/2013 ,SI PENJUAL MENELPON SAYA DENGAN MEMINTA AGAR SAYA MENTRANSFER LAGI UANG SEBESAR 1,4 DGN ALASAN UTK MEMBAYAR BEA CUKAI. KETIKA SAYA MENELEPON BALIK SI PENJUAL TIDAK AKTIF. UNTUNG SAJA SAYA MELAKUKAN PEMBAYARAN YANG DIMINTA SI PENJUAL JADI SAYA HIMBAU KPD PENJUAL YANG SUKA MENIPU AGAR INSYAF DAN BERTOBAT KARENA PERBUATANNYA SGT MERUGIKAN KORBAN TERMASUK SAYA. ID data : 2861 Validasi pelapor [HP : ok, email: ok] Pelapor : Urip Dharmaputra Tanggl lapor : 25-Apr-2013 02:42 Data penipu : Ini Penipu .rama95 (Online Store di FJB Kaskus) No HP 089601693522/08561215925 http://www.kaskus.co.id/profile/viewallclassified/4921044 Kronologi : Pada tanggal 14 April 2013 saya order jersey Newcastle Home dan jersey Napoli Away.Saya sudah transfer uang 265 ribu.Sudah sminggu barang tidak saya terima.Saya minta no.resi malah dikasih no resi palsu.Tiap kali saya sms no seller ini pasti tidak dibalas. ID data : 2860 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Agung Septiansyah Tanggl lapor : 25-Apr-2013 01:35 Data penipu : PEEENTING !PENTING! PENIPUAN JUAL HAPE..PENIPU BERNAMA FERI..FERI..FERI..DI SEKITAR JOGJA DIA MERAJALELA AYO TANGKAP !!!! DIA MENIPUUUU MENGUGUNAKAN FB: Sherlyana Bintang Darmawan KLO ADA PERNAH LIAT DIA MAU JUAL BB GEMINI KARENA ALESAN BUAT KULIAH.. INI NO.NYA 082379823003 DAN PIN BB NYA AKU LUPA UDA DI HAPUS DR KONTAKKU..TAPI DIA MEMBUAT KESALAHAN MEMBUAT KETAUAN POSISI DIA.. INI no. REKNYA : 039701005112506 ats nama : FENTI TIARA BANTA BRI Kronologi : 1) kemarin saya dia liat nawarin bb gemini 600rb gemini batangan..lalu saya mulai tanya tanya dan dia bercerita tentang untuk apa menjual hapenya..PENIPU adalah seorang PRIA,tpi dia menipu saya sebagai wanita atas nama diatas ya.. SINGKAT CERITA (krn panjang) langsung ke MODUSnya aja biar BErguna BAGI TEMAN2.. 2) dia membuat saya percaya dengan Screensot yg dikirimnya lwat BBM bahwa dia sms kakaknya dan di kirimnya percakapan itu ke BBM saya..Hapenya punya Mbaknya.. 3) Tapi saya tettap khawatir di tipu,saya ajukan kalau barangnya di bawa kepengiriman dulu nanti kalau sudah keluar resinya di foto dan langsung saya lunasin..tapi tidak tau kenapa dia menolak dengan alasan butuh uang secepatnya..OIYA DIA NGAKUNYA BERADA DI BANDAR LAMPUNG...yg bikin saya percaya BBMan dia sperti khalayaknya seorang wanita buat status2 dan PP BBM nya juga ganti2..membuat saya yakin kalo itu emg orang yg tidak bisa di lakukan penipu.. 4) akhirnya Karena saya KASIAN,saya ngikutin apa katanya aja klo kirim 100rb dulu aja baru di ngelakuin kyk yg saya katakan..saya kirim deh 100rb tgl 24/4/2013 HARI RABU jam 12;17 siang..dia respon oke uda masuk.. 5) Setelah itu sekitar 3 jam kemudian dia BBM yg isinya katanya mbaknya harus di lunasin dulu baru berani kirim karena takut pernah hampir ketipu katanya..dia bilang uda pernah kejadian kyk gini 2 kali sblmnya..dia blg klo ga mau gpp,tar uang 100rbnya di transfer balik.. 6) Melihat di berbicara seperti itu saya jadi mulai ragu,lalu dia akhirnya screenshot hasil pembicaraaan mereka sama mbkanya..bahwa di balikin aja uangnya yg 100rb klo dia tidak mau,nunggu yg mau COD aja..gitu katanya nah saya kan jadi percaya tuh.. 7) akhirnya saya jam 14:58 an siang hari RABU tgl 24-4-2013 saya kirim deh 450rb karena sekalian ongkir jadi total 550.000 rupiah..sblm transfer itu saya ada kejadian aneh,kartu atm saya ilaang saya kira jatuh dimana,ternyata setelah beberapa menit ketemu terselip di dompet itu juga haha saya sempat berpikir apakah itu pertanda buruk sewaktu akan transfer 450rbnya ? tapi saya berpikir hanya perasaanku aja,jd tetep saya kirim deh.. 8 ) Stelah saya tunggu kabar hapenya supaya di kirim secepatnya dia blg lagi ada DINAS karena dia ngakunya kuilah di PERAWATAN sampe malam..ya uda akhirnya saya blg gpp bsuk siang aja.. 9) sampe malam kami msh terus BBm an,sampe jam 12 malam Paket saya habis.. sekitar jam 2 malam saya terbangun dan saya aktifin paket lagi (maklum harian) saya liat kontak BBM dia berubah nama PERHATIKAN INI BAGIAN PENTING>>>> NAMA BBM DIA BERUBAH namanya menjadi : FERI dan FOTO profil BBM nya di ganti GAMBAR yg BISA bergerak (ga tau apa namanya ) Kata2nya ada tulisan "ASU" Naaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh dari sini baru saya sadar ditipuuuuu..JELAS dr situ terbukti bahwa LOKASI PENIPU Kebetulan berada DI JOGJA saya yakin..karena mana ada orang lampung tau arti kata "ASU"..pasti dia orang SEKITAR JOGJA 10) saya Nyesel karena TIDAK mencatat PIN BBM DIA..SEKARANG contaknya sudah DI HAPUS..dan FBnya tersebut tidak dapat saya lihat mungkin SAYA DI BLOKIR sama dia.. SAYA BERNIAT KE POLISIAN NANTI TAPI BINGUNG MULAI DARI MANA..KALO ADA SARAN TOLONG KSH TAU CARANYA ya ALL.. ID data : 2859 Validasi pelapor [HP : ok, email: ok] Pelapor : andy Tanggl lapor : 25-Apr-2013 01:34 Data penipu : nama pelaku : agung silvianto no rek : 1140013526154 nama bank : mandiri no hp :083832759691 pelaku menjual hp javelin mati setelah di transfer menghilang ID data : 2858 Validasi pelapor [HP : none, email: ok] Pelapor : novan Tanggl lapor : 25-Apr-2013 01:30 Data penipu : nama : sumarlin no hp : 082311730907 kaskus fjb req : bni 0270081898 a/n sumarlin nipu saya jual ps 3 seharga Rp 1.150.000 ID data : 2857 Validasi pelapor [HP : none, email: ok] Pelapor : Lindawati Tanggl lapor : 25-Apr-2013 00:36 Data penipu : Nama : X-Zample Management / Alfino Helfiz Pin Bb : 28363049 http://twitter.com/AlfinoHelfiz Pekerjaan : Owner of X Zample Dance, Coordinator of Malio Club, KC Club Modus pelaku : adalah berpura pura menjual pakaian costum tari dan setelah ada transfer dari pembeli maka si pelaku langsung menghilang tidak ada berita sama sekali. tolong utk para yg ingin memakai jasa X Zample Management di harapkan agar berhati hati. ID data : 2855 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : ahmadi Tanggl lapor : 25-Apr-2013 00:19 Data penipu : Buat yang berbisnis di bidang perdagangan tembakau atau olahan tembakau hati2 dengan orang-orang ini: 1. Pak haji Mono alamat di Jenggawah, Jember. Tahun 2000 tidak membayar kekurangan uang pembayaran krosok tembakau Rp 100 ribu. Memang cuma Rp 100 ribu tapi itu tahun 2000. 2. Saput dan Saeri. Dua-duanya pedagang tembakau. Saput sekarang tinggal dengan istri mudanya di Tanjungrejo, Wuluhan, Jember. Saeri alamat di Curah Nongko (4 km timur kota Blater, Jember). Saeri katanya sekarang bekerja di Kalimantan sebagai mandor bangunan. Dua-duanya memiliki hutang Rp 2 jutaan tahun 2003 dari kekurangan pembayaran uang krosok tembakau. 3. Saipul beralamat di Tegal Banteng, ds. Kesilir, kec. Wuluhan, kab. Jember. Kabar terakhir katanya bekerja di Kalimantan tapi ada yang bilang sudah mati. Dia memiliki hutang Rp 5 jutaan tahun 2006 alasannya ditipu teman dagangnya Heni. Orang-orang di atas memiliki hutang bukan kepada saya tapi ibu saya. Saya hanya membantu melaporkan. ID data : 2853 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Lina Hardiyan Tanggl lapor : 25-Apr-2013 00:10 Data penipu : Nama : Susi_lie (nama dikontak bbm) no hp : 085772817838 no rek : 5990242706 BCA pin bbm : 296ccb0c Dia berkedok online shop menjual tas. Saya memesan tas dgn total 855rb tapi saya mentranfer 400rb untuk satu tas,setelah saya transfer kemudian malam mggu tas sudah dikrm. keesokan hari saya menanyakan RESI pengiriman tapi dia beralasan masih dalam perjalanan, Nanti setiba dirumah langsung saya krim kata beliau. Setelah bebrapa hari tas ga ada kabar,saya tlp dan bbm tidak ditanggapi. hingga puncaknya pada hari ini tgl 25 april dia menghapus kontak bbm saya,sehingga saya susah menghubunginya lagi. Mohon berhati-hati kepada teman2 agar tidak menjadi korban seperti saya.makasih smoga info ini bermanfaat. ID data : 2852 Validasi pelapor [HP : none, email: ok] Pelapor : amelia Tanggl lapor : 24-Apr-2013 22:04 Data penipu : nama : Budianto no HP : 082337377754 no. rek : 9000004250677 bank Mandiri pembelian barang gemini 8520 sebanyak 3 dengan harga rp.2.250.000. setelah transfer uang, pelaku minta ditransfer kembali uang sebesar 3jt dengan alasan barang ditahan di beacukai krn barang BM. krn nga transfer saya diteror terus, dia ngaku nya ada kenalan di polisi. hati" untuk teman dengan no rekening diatas. sudah byk yg tertipu. ID data : 2849 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Lius Tanggl lapor : 24-Apr-2013 20:47 Data penipu : no nya : 081243318846 ni penipu mengatasnamakan Telkomsel Poin, pemenang AVANNZA code pin nya : b89c7h9 website nya : www.telkomselpoin-undian.webs.com ID data : 2846 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : aris budi utomo Tanggl lapor : 24-Apr-2013 20:11 Data penipu : hari senin siang saya searching di tokobagus, saya nemu iklan sugar glider dengan harga 400rb/ekor. saya hub no dia 089660424060 dan tak lama kmudian dia bales sms kloo stocknya ada dan siap kirim,bahkan udah nyertain gambar barang plus ada tulisan nama saya yg dikirim via email. nuno.jiko@yahoo.co.id bahkan dia bilang mau ngasih pinjam juga dengan syarat bayar bulanan, jadi saya semakin percaya palagi dia nyebutin nama group komunitas juga kpsgi pada senin 22/04/2013 sore saya transfer uangnya sbesar 875rb no rekening : 2872434551 an Tri Haryo Wibisono untuk pembelian sepasang sugar glider plus ongkir nympe semarang, pada hari selasa dia bilang udah dikirim barangnya, dengan no resi yg dikirim via email(tp nympe skrng g ada email no resi dr dia) hari rabu saya nunggu telp dr pihak herona,tp ga ada telp masuk jadi saya lngsung datngin herona di stasiun poncol semarang,dan setelah saya cek ternyta tidak ada. saya telp dia nyebutin no resi E/SBC 06597 dengan tergesa2 dan telp dimatiin, saya tanya k herona itu no resi fiktif. dan saya telp lg ga di angkat sm skali nyampe hari ini ID data : 2845 Validasi pelapor [HP : ok, email: ok] Pelapor : evan Tanggl lapor : 24-Apr-2013 12:34 Data penipu : hati2 terhadap penipuan yang mengatasnamakan event organizer the 7 sky, kami telah tertipu oleh seseorang yang bernama sayit abdul karim 082147574198 dan natasha 081316299009, sebelum acara dimulai para pelaku bajingan tengik ini melarikan diri dan membawa uang perusahaan kami sebesar 50.000.000 ID data : 2843 Validasi pelapor [HP : ok, email: ok] Pelapor : evan Tanggl lapor : 24-Apr-2013 12:31 Data penipu : hati2 terhadap penipuan yang mengatasnamakan event organizer the 7 sky, kami telah tertipu oleh seseorang yang bernama sayit abdul karim 082147574198 dan natasha 081316299009, sebelum acara dimulai para pelaku bajingan tengik ini melarikan diri dan membawa uang perusahaan kami sebesar 50.000.000 ID data : 2842 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : IKHWANUL HUJIATNA Tanggl lapor : 24-Apr-2013 10:57 Data penipu : Nama : Rachmat Syarifudin No. Rek( Bank BRI) : 034101046572508 Nama akun Facebook : Promosi Elektronik Nomor Handphone : 082315999627 pin BB : 29FC02B4 menipu dengan cara menjual handphone dan kamera slr dengan harga yang sangat murah sekali, kalau tidak percaya cek saja akun facbooknya,, kalau calon korban belum mau membeli barangnya, maka orang ini akan terus memaksa sampai anda menjadi korbannya. ID data : 2840 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : aswar Tanggl lapor : 24-Apr-2013 10:43 Data penipu : ada penipu di toko bagus yang pasang iklan ikan lele,dia telah menipu saya degan uwang sebesar 2.000.000,katanya ikan di kirim ternyata dia cuma penipu, NO iklan di toko bagus 21004821 atas nama (kethex) NO hp 083867711172 dia penipu internasional ID data : 2837 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : kurniawan bayu aji Tanggl lapor : 24-Apr-2013 09:59 Data penipu : http://www.undiantelkomsel-777.blogspot.com jelas2 penipuan, mana mungkin telkomsel numpang blog gratis ID data : 2835 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : Rezki Tanggl lapor : 24-Apr-2013 09:29 Data penipu : Nama : Nurul Inshani Bank : BNI No.Rek: 272277585 Pin BB : 29B04713 Hp : 087715815051 Cara : menipu melalui penjualan online di BBM ID data : 2834 Validasi pelapor [HP : none, email: ok] Pelapor : Joko Tanggl lapor : 24-Apr-2013 08:47 Data penipu : Usman Hasan, 764501000573503 ID data : 2832 Validasi pelapor [HP : ok, email: none] Pelapor : ahmadi Tanggl lapor : 24-Apr-2013 05:03 Data penipu : Hati2 buat anda yang ingin berbisnis jamur tiram khususnya di Jember, Jatim. Uang jutaan rupiah dari bisnis jamur tiram saya tidak dibayarkan oleh2 orang di bawah ini: 1. Gatot, Alamat di Sukorambi, Jember. Bekerja sebagai SATPAM di Mitra Tani Jember. Memiliki hutang Rp 3 jutaan tidak dibayar sampai sekarang dari tahun 2011. No hape: 03317746332/081336039460/087757909177. 2. Maryono, masih saudara Gatot beralamat di Sukorambi, Jember. Memiliki hutang sekitar Rp 400 ribuan dari awal tahun 2012 sampai sekarang. No hape: 03313465261/03317199254. 3. Gus Madi, masih saudara dengan Maryono dan Gatot beralamat di Jember. Memiliki hutang Rp 500 rb sudah 8 bulan tidak dibayar. No hape: 081157909177/087712965849. Sekarang masih membudidayakan jamur tiram. 4. Pardi, beralamat di Sukorambi, Jember. Pekerjaan sampingan makelar mobil. Sekarang katanya pergi ke Kalimantan. No hape 03313522204/08214110111. 5. Maryono beralamat di Kebun Renteng, Jenggawah, Jember. Pekerjaan sampingan makelar mobil. Hutang sekitar Rp 200 ribu tahun 2005 sampai sekarang belum dibayar. 6. Mbak Ngatini alamat semula di Purwojati, Wuluhan, Jember tapi sekarang sudah pindah ke Papua. Memiliki hutang Rp 400 rb dari tahun 2004 sampai sekarang belum dibayar. Untuk orang2 di atas saya sudah tidak mengharapkan pembayaran dari anda karena sudah saya putihkan. Ini hanya sebagai peringatan saja kepada siapa saja yang akan berbisnis jamur atau apapun yang lain dengan mereka. ID data : 2830

Selasa, 23 April 2013

Harga Tepung Sagu Basah

Kami juga membuka peluang kerja sama sistim fee dengan Anda mendapatkan harga petani yaitu Rp.1.500/kg Senin, 08 April 2013 Pengendalian Harga Tepung Sagu Basah Menjadi Tugas Pertama Gubernur/Wakil Gubernur Lukmen Pengendalian Harga Tepung Sagu Basah Menjadi Tugas Pertama Gubernur/Wakil Gubernur Lukmen. Oleh Farsijana Adeney-Risakotta Papua Pos Online, 9 April 2013 (www.papuapos.com) melaporkan bahwa harga sagu di Jayapura naik dari Rp 100.000 perkarung menjadi Rp 250.000 perkarung. Stok sagu di pasaran makin berkurang menjadi pemicu kenaikan harga. Cuaca kering menyebabkan banyak pohon sagu kering. Selain faktor alam, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua juga mensinyalir bahwa kenaikan harga sagu mungkin disebabkan karena rencana pelantikan Gubernur/Wakil Gubernur Papua akan dipestakan dengan menyajikan berbagai makanan khas masyarakat Papua seperti bakar baru, barapen dari Biak, sagu dingin ala Sentani dll yang dalam pengolahannya memerlukan bahan pokok tebung sagu. Kebutuhan tepung sagu tiba-tiba untuk menjamu 30 ribu orang bisa menjadi faktor pemicu kenaikan harga tepung sagu basah. Fenomena kenaikan harga sagu ini, yang merupakan makanan pokok rakyat Papua harusnya menjadi perhatian pertama dari Gubernur/Wakil Gubernur Lukmen untuk memikirkan strategi ketahanan pangan lokal. Rakyat Papua harus bisa dijaminkan mampu mengakses tepung sagu basah sebagai bahan pokok pengolahan berbagai jenis makanan khas Papua. Penjualan tepung sagu yang basah dengan harga mahal dapat menyebabkan penurunan kualitas penyajian makanan olahan sagu yang dilengkapi dengan variasi makanan lain yang bergisi seperti berbagai menu sayuran dan ikan. Pengendalian harga makanan pokok menjadi tugas pemerintah daerah untuk menjaminkan warga masyarakat mempunyai akses pada makanan yang sehat dan bervariasi sehingga Papua bisa keluar dari permasalahan busung lapar. Salam amalulukee. Papeda dibuat dari tepung sagu. Kuah ikan dengan tambahan sayuran seperti terung, tomat adalah menu yang dimakan bersama papeda. Makan papeda dilakukan bersama-sama sangat nikmat Sumber berita: 1. Rakyat Papua Saksikan Pelantikan Lukmen Hari ini 2. Harga Sagu Naik adimacpal@yahoo.co.id HP.081-341-825-258 HP.085-378-888-559

Senin, 22 April 2013

Sagu di Sultra Cukup Diminati Pasaran

Produk Sagu di Sultra Cukup Diminati Pasaran By Sonya Maria on 22 Apr 2013, 21:06 A A A Related Articles Dana Bantuan Rp1 Miliar untuk Nelayan Wakatobi 2.217 Ton Beras Petani Diserap Bulog Divre Sultra Sempat Terhenti, Pembangunan Bandara Kolaka Dilanjutkan Kendari Mulai Alami Penurunan Harga Bawang (Berita Daerah - Sulawesi) Produk sagu basah dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tenggara (Sultra) belakangan ini cukup diminati pasaran antarpulau khususnya di Pulau Jawa. Salah seorang pengusaha pembeli sagu antarpulau di Kota Kendari, Mansur Gama di Kendari, Senin, mengatakan, akhir-akhir ini kewalahan memenuhi permintaan pasar untuk kebutuhan konsumsi warga di Kota Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. "Sebenarnya, berapapun produk sagu yang dibeli di pasaran, penjualannya tetap laris di pasaran Surabaya," kata Mansur yang juga Pimpinan UD Mujur Jaya. Ia mengatakan, setiap satu bulan pihaknya mengantarpulaukan sagu basa dari pelabuhan Kendari ke Surabaya antara 100-150 ton, atau 4-5 kontainer. Harga pembelian sagu basa pada tingkat pedagang pengumpul dibelinya antara Rp1.400-Rp1.500 per kilogram. Sedangkan harga jual setelah tiba di pasaran di Surabaya bervariasi antara Rp2.000-Rp2.200 per kilogram tergantung dari jenis dan kualitasnya. "Harga pembelian itu, di luar biaya angkut dari tempat dimana bahan baku sagu itu dibeli pada kelompok pedagang pengumpul di Kendari hingga proses muat ke pelabuhan Kota kendari. Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, H Sahibo mengatakan, perdagangan antarpulau beberapa produk hasil bumi khususnya perkebunan, hasil kehutanan dan Pertanian cukup meningkat belakangan ini. Ia mengatakan, banyaknya permintaan pasar terhadap produk hasil bumi dari Sultra itu, setelah pihak Disperindag Sultra melakukan kegiatan pasar lelang produk komoditas yang dilakukan sekali dalam 2-3 bulan. "Jadi ivent pasar lelang akhir-akhir ini bernilai sangat positif karena mempertemukan antara petani sebagai pengelola dan penghasil produk hasil bumi dengan para pedagang dan pengusaha pembeli," katanya. Kegiatan pasar lelang itu kata Sahibo, memberi peluang para petani untuk menawarkan produk berbagai hasil produksi perkebunan dan pertanian mereka secara transparan, dan sekaligus menutup keran bagi para tengkulak yang selama ini selalu mengejar keuntungan untuk pribadi mereka. (sn/EA/bd-ant) Pic:ant adimacpal@yahoo.co.id HP.081-341-825-258 HP.085-378-888-559

Pengembangan Tanaman Sagu

Pengembangan Tanaman Sagu Secara nasional sagu termasuk tanaman unggulan, namun pengembangannya belum ditangani secara intensif. Pengusahaan tanaman sagu dalam hal budidaya tanaman belum dilakukan masyarakat dan merupakan warisan dari pendahulu, sedangkan pada perkebunan swasta telah melakukan pengusahaan tanaman dengan teknik budidaya. PENDAHULUAN Beberapa daerah yang memiliki luas kawasan pertanaman sagu adalah Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat dan Riau. Secara nasional sagu termasuk tanaman unggulan, namun pengembangannya belum ditangani secara intensif. Walaupun telah dimanfaatkan secara luas, tetapi umumnya penanganannya mas ih secara tradisional dan belum dibudidayakan secara intensif. Sagu berpotensi menjadi sumber pangan pokok alternatif setelah beras karena kandungan karbohidrat dan protein yang tinggi, kemampuan substitusi tepung dalam industri pangan, peluang peningkatan produktivitas, potensi areal serta kemungkinan diversivikasi produk. Oleh karena itu, prospek dan peluang pengembangan sagu sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri cukup menjanjikan. Salah satu daerah yang potensial dan telah mengusahakan pengembangan tanaman sagu untuk digunakan sebagai komoditi utamanya adalah provinsi Riau. Di provinsi ini sagu tersebar di daerah pesisir dan di pulau-pulau besar/kecil kecil, yakni di kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Kampar, Pelalawan, dan Siak. Pada tahun 2001, areal tanaman sagu di Provinsi Riau seluas 61.759 ha yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 52 344 ha (84, 75 %) dan perkebunan besar swasta seluas 15 415 ha (15,25%). Pengusahaan tanaman sagu dalam hal budidaya tanaman belum dilakukan masyarakat dan merupakan warisan dari pendahulu, sedangkan pada perkebunan swasta telah melakukan pengusahaan tanaman dengan teknik budidaya. Perkebunan swasta yang telah mengusahakan tanaman sagu adalah PT. National Timber and Forest Product yang berkedudukan di Selat Panjang, Bengkalis. Perusahan ini dulunya mengusahakan kayu (HPH) sebagai produk utamanya dan sekarang berubah menjadi HTI Murni Sagu. HTI Murni sagu yang dikelola perusahaan ini dimulai pada tahun 1996, saat ini areal pengembangan yang diusahakan seluas 19.000 ha. BUDIDAYA TANAMAN Hasil studi banding di PT. National Timber and Forest Product yang berkedudukan di Selat Panjang, Bengkalis menunjukkan tahap pengelolaan tanaman sagu yaitu : Perencanaan dan pengadaan bibit Penyiapan bibit Pengangkutan bibit Seleksi bibit Perlakuan pestisida dan fungisida Sistim pembibitan dan penanganannya Lama Bibit di Pesemaian Penanaman di lapang Perencanaan dan Pengadaan Bibit Pada tahap ini hal-hal yang diperhatikan berupa; data inventarisasi potensi dan sumber bibit harus dikelola dengan baik dan hati –hati dalam menginventarisasi potensi bibit disamping itu sistim pengadaan bibit dilakukan dengan sistim kontrak atau melalui perorangann. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengiriman dan pengangkutan dari sumber bibit sampai ke tempat penerimaan, karena akan mempengaruhi kesegaran bibit itu sendiri dan jika terlalu lama bibit akan mengalami dehidrasi. Metoda penanganan bibit perlu dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan kematian untuk itu diperlukan tenaga kerja yang telah memahami dan terampil didalam pengambilan bibit sagu. Penyiapan Bibit Bibit yang diambil sebagai bahan tanaman sebaiknya bibit yang telah matang atau tua. Bibit ini umumnya dapat ditemukan pada kebun yang sudah dipanen 3-4 kali terhadap pohon induknya. Bibit yang baik dengan berat 2-5 kg. Pemisahan bibit dari pohon induknya biasanya dilakukan melalui pemotongan pada daerah leher yang berkayu (keras), akar-akar disekitar stolon mirip akar keras dan akar dipangkas hingga 5 cm dan pelepah dipotong hingga 30-40 cm. Pengangkutan bibit dan Penanganannya Salah satu cara untuk meningkatkan prosentasi hidup bibit yang telah dipisahkan dari pohon induk adalah harus segera diangkut dan ditanam sesegera mungkin. Penundaan waktu penanaman yang disebabkan jauhnya tempat penanaman mengharuskan tanaman tersebut harus disemai dan dalam perjalanan sebaiknya bibit harus tetap dalam kindisi dingin dan lembab. penyemaian hingga 2 minggu sebaiknya bibit Seleksi Bibit Setelah bibit tiba ditempat penyemaian maka diperlukan tindakan untuk seleksi bibit. Penyeleksian bibit berdasarkan : Tingkat Kesegaran bibit, biasanya bibit mempunyai tangkai pelepah hijau mengkilap, jika berwarna kehitaman dan kering menandakan bibit tidak segar/mati. Berat, berat yang baik berkisar 2-5 kg Bentuk dan struktur akar, bibit berbentuk L dan memiliki akar yang cukup Stolon dan pelepah, pemangkasan terhadap stolon dan pelepah tidak terlalu pendek berkisar 30-40 cm Tidak terserang hama dan penyakit, biasanya hama ulat sagu yang menyerang ditandai dengan lubang kecil atau bibit terinfeksi jamur pada daerah pemotongan yang ditandai dengan adanya warna putih keabu-abuan Kematangan, biasanya bibit yang muda mempunyai pangkal yang pendek dan pada bekas pemotongan akan menunjukkan warna putih, sedangkan jika warnanya merah muda berati bibit tersebut sudah matang. Perlakuan Pestisida dan Fungisida Setelah bibit diseleksi, bibit dicelupkan kedalam larutan campuran pestisida tertentu atau fungisida untuk menghindari serangan hama atau jamur. Biasanya larutan pestisida atau fungisida dengan dosis 2 gram/liter atau 2 cc/liter air. Lama perendaman bibit kedalam larutan tersebut ± 5-10 menit setelah itu bibit disemaikan. Sistim Pembibitan Sistim pembibitan yang dilaksanakan pada bibit sagu adalah pesemaian rakit. Pesemaian rakit ini dilaksanakan pada parit dengan air mengalir. Rakit ini bisa terbuat dari bambu atau pelepah tua tanaman dewasa (Gambar 3). Keuntungan menggunakan sistim ini adalah kemampuan tumbuh bibit tinggi serta pemeliharaan tanaman sangat sedikit. Dalam satu rakit berukuran 2 x 1 meter dapat disemaikan 160 – 200 anakan sagu tergantung ukuran bonggolnya dan peletakan anakan dalam rakit pesemaian diatur searah dengan rakit Lama Bibit di Pesemaian Waktu dan lamanya bibit di penyemaian, bibit disemai selama 3 (tiga) bulan. Penyemaian yang terlalu lama akan menyebabkan bibit menjadi besar dan akan menyulitkan dalam proses pengangkutan. Biasanya pertumbuhan bibit di pesemaian sering tidak seragam. Hasil kajian menunjukkan, daya tahan hidup bibit 3, 9 dan 12 bulan masing masing 82 %, 62 % dan 22 %. Oleh sebab itu untuk penanaman adalah bibit yang telah mempunyai 2-3 helai pelepah dan akar baru. Penanaman di lapang Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu pelepah daun dipangkas untuk mengurangi penguapan daun dan dalam membawa bibit tidak bertumpuh pada pelepah mudah (daun tombak) untuk menghindari luka/patah pada bibit. Sistim penanaman bibit adalah segi empat dengan jarak tanam 8 x 8 m atau 10 x 10 m, ukuran lubang 30x30x30 cm dengan waktu sesuai penanaman adalah pada musim hujan Saat ini pertumbuhan tanaman sagu dari PT. National Timber and Forest Product seluas 19.000 ha sangat baik dilapangan. PELUANG PENGEMBANGAN Pengembangan sagu di Indonesia bertujuan untuk mengoptimalkan sumberdaya dan pengolahan secara berkelanjutan (sustainable processing) dalam rangka membangun ketahanan pangan serta terwujudnya agribisnis sagu. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan sagu ini adalah teridentifikasinya potensi lahan sagu aktual, kebun koleksi plasma nutfah sagu, rehabilitasi areal sagu, peningkatan produktivitas sagu, diversifikasi produk, optimalisasi pemanfaatan limbah sagu dan peningkatan pendapatan petani sagu. Dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya sagu untuk pengolahan berkelanjutan maka dibutuhkan teknologi sagu, antara lain mencakup aspek-aspek rehabilitasi hamparan sagu, teknologi budidaya mulai dari pembibitan hingga penanaman di lapang, konservasi sagu secara in situ dan ex situ, pengolahan tepung sagu secara mekanik, diversifikasi produk dan pemasaran. Cara yang dilakukan oleh PT. National Timber and Forest Product di Selat Panjang, dapat diaplikasikan di daerah lain yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman sagu. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sagu adalah pada umumnya belum dibudidayakannya tanaman ini, sehingga menyulitkan dalam proses perencanaan produksi dan pengolahan hasil. Upaya-upaya untuk mengintroduksi teknologi budidaya sagu akan menghadapi masalah, antara lain belum semua teknologi budidaya tersedia untuk diterapkan petani. Perluasan areal sagu terbatas pada daerah tertentu, yaitu lahan basah dan rawa serta jenis tanah alluvial. Permasalahan lain yaitu areal sagu dari tahun ke tahun semakin berkurang sebagai akibat (1). Panen dilakukan secara eksplotatif tidak diikuti dengan penanaman kembali, (2). Beralihnya fungsi lahan baik untuk pemukiman maupun usaha pertanian lainnya. Pengembangan sagu membutuhkan pengamatan antara lain menyangkut ketersediaan lahan dan iklim yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman sagu, pengalaman petani mengelola usahatani dengan keterbatasan manajemen, pengendalian kebersihan pada waktu pengolahan dan diversifikasi produk. Selain itu, dibutuhkan perbaikan penerapan teknologi budidaya, karena petani menggunakan anakan sagu dengan umur dan ukurannya yang beragam sebagai bibit, sehingga produksi sagu rendah. Berdasarkan sifat fisik dan kimia yang dimilikinya, sagu dapat dimanfaatkan tidak terbatas pada bahan pangan saja tetapi dapat juga dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai industri baik pangan maupun non pangan (industri kertas, dan industri tekstil). Sebagai bahan pangan, pati sagu dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok di beberapa daerah di Kawasan Timur Indonesia. Saat ini, pati sagu telah dimanfaatkan lebih luas lagi, yaitu sebagai bahan pembuat roti, biskuit, bagea, mi, sirup berkadar fruktosa tinggi dan penyedap makanan Dengan perkembangan teknologi ternyata pati sagu dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan plastik yang dikenal dengan istilah biodegradable plastic (plastik yang mudah terurai) Selain itu, tepung sagu dapat diolah menjadi etanol (gasohol). Di Papua New Guinea, telah dilakukan serangkaian penelitian tentang studi kelayakan produksi etanol dari tepung sagu. Hasil studi menunjukkan bahwa produksi etanol dari tepung sagu adalah layak. Diperkirakan dari pengolahan 1 kg tepung sagu menghasilkan etanol sebanyak 0.56 liter. Selain tepung sagu, ampas sagu kering dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ampas sagu kering yang diberikan pada ayam pedaging dan peternak dengan takaran 12.5-25.0% dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang buruk. Pemanfaatan ampas sagu kering sebagai pakan ternak akan mengurangi pencemaran lingkungan disekitar tempat pengolahan sagu. Permintaan komoditas sagu baik di dalam negeri maupun luar negeri mengalami peningkatan karena dibutuhkan dalam industri pangan, kertas dan tekstil. Akibat dari makin beragamnya pemanfaatan komoditas sagu dan diikuti meningkatnya permintaan komoditas ini menyebabkan terjadinya eksploitasi tanaman sagu secara besar-besaran. Diperkirakan eksploitasi tanaman sagu sebesar 60 juta pohon per tahun. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya erosi genetik sagu potensial apabila tidak diikuti dengan usaha konservasi dan rehabilitasi PENUTUP Sagu merupakan salah satu sumber pangan alternatif setelah beras karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Provinsi Riau adalah salah satu daerah yang potensial untuk pengembangan sagu. PT. National Timber and Forest Product yang berkedudukan di Selat Panjang, Bengkalis adalah Perkebunan Swasta di Provinsi Riau yang telah mengusahakan tanaman sagu dengan mengikuti pola budidaya dengan tingkat keberhasilan sudah diatas 80%. Pola pengembangan sagu di Kabupaten Bengkalis, provinsi Riau, berpeluang untuk diterapkan di provinsi/kabupaten sagu lainnya. adimacpal@yahoo.co.id

INFO sagu sulawesi tenggara

Kami membuka peluang kerja sama sistim fee dengan Anda mendapatkan harga petani yaitu Rp.1.500/kg PENGARUH LAJU PEMBEBANAN ORGANIK TERHADAP PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH CAIR SAGU MENGGUNAKAN BIOREAKTOR HIBRID ANAEROB Lusy Yunitamel, Adrianto Ahmad, Ida Zahrina Laboratorium Rekayasa Bioproses, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau Kampus Binawidya Km 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 email: adriantounri@gmail.com Abstract Nowaday, production sago in Kabupaten Kepulauan Meranti reaches 450,000 tons per year. Increased production of sago starch is followed by an increase of sago wastewater. In producing sago starch needs 20,000 liters of water per ton of sago which 94% water will be wastewater. The wastewater has a high COD levels and potention to converted be biogas. One of treatment for sago wastewater to be biogas uses hybrid anaerobic bioreactor which combines the suspended growth systems and attached growth system. The object of this research is to determine the optimum of organic loading rate with highest biogas production. The research uses hybrid anaerobic bioreactor with volume 10 liters and media stones. The variation of the organic loading rate is 12,5: 16,7, 25 and 50 kgCOD/m3day and conditioned at room temperature. The results showed that the organic loading rate has influence in producing biogas. The biogas production optimum at the organic loading rate 25 kgCOD/m3day and steady state on 14th days with production of biogas is 41,600 ml. Keywords: anaerobic, biogas, hybrid bioreactor, sago wastewater 1 Pendahuluan Salah satu isu global yang sering jadi perbincangan masyarakat Indonesia saat ini adalah mengenai krisis energi. Sistem energi saat ini juga terlalu bertumpu pada sumber energi fosil. Padahal bahan bakar fosil tidak dapat diperbaharui sehingga apabila digunakan terus-menerus akan habis. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu energi alternatif, salah satunya adalah pemakaian biogas. Biogas merupakan campuran beberapa gas hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerobik, dengan gas yang dominan adalah gas metana (CH4). Biogas merupakan sumber energi yang dapat diperbarui (renewable energy) karena limbah organik selalu ada dan tersedia setiap waktu. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sagu terbesar di Dunia. Daerah potensial penghasil sagu di Indonesia meliputi Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Di Kabupaten Kepulauan Meranti, sagu memiliki luas area penanaman sagu sebesar 47.172 ha [Wicahya dan Fikri, 2010]. Produksi sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti dapat mencapai 450.000 ton/tahun [Riau Pos, 2012]. Dari hasil pengolahan tepung sagu tersebut, terdapat limbah yang dihasilkan yaitu limbah cair sagu. Dalam memproduksi tepung sagu dibutuhkan 20.000 liter air per ton sagu [Banu et al, 2006]. Jadi dapat diperkirakan air yang dibutuhkan 9.000.000 kl air/tahun, yang mana 94% air tersebut akan menjadi limbah cair [Awg- Adeni et al, 2010], sehingga limbah cair yang dihasilkan dalam produksi sagu sekitar 8.460.000 kl air/tahun. Limbah cair sagu memiliki komposisi bahan organik dan kadar COD yang tinggi. Bahan organik tinggi yang terkandung dalam air buangan berpotensi untuk mencemari lingkungan sekitarnya. Pengolahan secara biologi merupakan salah satu alternatif usaha untuk menanggulanginya. Bahan organik tinggi (COD > 4.000 mg/L) lebih tepat diolah dengan menggunakan pengolahan biologi secara anaerob [Syafila et al, 2003]. Proses anaerob merupakan proses yang kompleks dengan melibatkan berbagai kelompok bakteri. Masing-masing kelompok bakteri yang terlibat mempunyai substrat tertentu [Ahmad, 2001]. Lintasan biodegradasi zat organik kompleks dalam proses anaerob tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Senyawa Organik Kompleks (Karbohidrat, protein dan lemak) Senyawa organik sederhana (Glukosa, Asam Amino, Asam Lemak) CO2, H2 Asam Asetat CH4 dan CO2 Hidrolisis Asidogenesis Asetogenesis Metanogenesis Metanogenesis Asam Volatil Rantai Pendek (Propionat, Butirat, dll) Asetogenesis Gambar 1. Lintasan Biodegradasi Senyawa Organik Kompleks dalam Proses Anaerob [Pavlostathis dan Giraldo-Gomez, 1991] Pengolahan limbah cair sagu pada penelitian ini dilakukan secara kontinu dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob bermedia batu. Bioreaktor hibrid anaerob adalah bioreaktor pengolahan limbah cair yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan zat organik di dalam limbah cair pabrik dan mengkonversikannya menjadi biogas. Biogas yang diproduksi menggunakan bioreaktor hibrid anaerob beroperasi pada suhu ruang. Sistem bioreaktor hibrid ini mampu bekerja dengan mencegah kehilangan biomassa (mikroorganisme), sehingga konsentrasi biomassa menjadi tinggi. Di dalam reaktor terdapat media yang berfungsi sebagai penahan biomassa dan sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme [Firdha, 2010]. Pada penelitian ini akan dilakukan pengolahan limbah cair sagu bermedia batu menggunakan bioreaktor hibrid anaerob. Melalui penelitian ini maka akan ditentukan pengaruh laju pembebanan organik terhadap produksi biogas serta menentukan laju pembebanan organik optimum dengan produksi biogas yang tinggi. 2 Metodologi Limbah cair sagu diperoleh dari PT. Siberida Wahana Sejahtera (SWS) di Kabupaten Kepulauan Meranti. Karakteristik limbah cair sagu yang digunakan sebagai substrat dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Limbah Cair Sagu PT. SWS Parameter Nilai Baku Mutu* Satuan pH 5,6 6-9 - COD 50.000 300 mg/L *Kepmen LH No. KEP 51-/MENLH/10/1995 Variabel proses yang digunakan adalah variasi laju pembebanan organik yaitu 12,5 kgCOD/m3hari, 16,7 kgCOD/m3hari, 25 kgCOD/m3hari, dan 50 kgCOD/m3hari. Parameter yang diamati adalah produksi biogas menggunakan metoda penampungan dengan larutan garam jenuh. Alat utama yang digunakan pada penelitian ini adalah Bioreaktor Hibrid Anaerob yang menyatukan sistem tersuspensi dan melekat. Gambar rangkaian alat Bioreaktor Hibrid Anaerob dapat dilihat pada Gambar 2. Tangki Influent Pompa Bioreaktor Hibrid Anaerob Leher Angsa Tangki effluent Larutan Garam Jenuh Gelas Ukur controller Gambar 2. Rangkaian Peralatan Pengolahan Menggunakan Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Batu Dari Gambar 2. dapat dilihat bahwa batu dimasukkan ke dalam bagian yang tidak bersekat dengan ketebalan ¾ dari tinggi cairan. Kemudian pada bagian yang tersuspensi dan melekat dimasukkan kultur campuran yang telah diaklimatisasi sehingga volume reaktor efektif cairan 10 L. Kemudian diinjeksikan gas nitrogen ke dalam sistem yang bertujuan untuk mengusir oksigen terlarut dalam cairan. Lalu didiamkan selama 3 hari untuk mengendapkan biomassa dari kultur campuran. Setelah itu, dialirkan umpan dengan laju alir 2 L/hari. Pola aliran mengikuti rezim di dalam sistem bioreaktor hibrid anaerob. Kemudian limbah cair sagu yang akan diolah dimasukkan ke dalam tangki umpan. Dengan menggunakan pompa, limbah cair tersebut dialirkan ke dalam tangki dengan mengontrol bukaan valve sesuai dengan laju alir yang diinginkan. Aliran limbah cair sagu di dalam bioreaktor adalah turun dan naik mengikuti sekat yang ada di dalam bioreaktor hibrid anaerob dan pada akhirnya aliran akan keluar menuju tangki effluent. Pada bagian atas bioreaktor hibrid anaerob tersebut dilengkapi dengan leher angsa dan selang yang menuju ke tabung penampungan biogas. Setelah keadaan tunak pada proses startup tercapai, selanjutnya bioreaktor diberikan laju pembebanan organik yang berbeda-beda dengan mengatur laju alir yang berbeda-beda pula. Laju pembebanan organik yang diberikan adalah 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari dan bioreaktor dioperasikan pada suhu ruang. Proses operasional ini bertujuan untuk melihat pengaruh laju beban organik terhadap waktu serta kinerja optimal bioreaktor dalam memproduksi biogas. Dengan dilakukan variasi laju pembebanan organik maka dapat diketahui bioreaktor bekerja dan hasil pengolahannya baik atau tidak. Selain itu, pembebanan dengan waktu tinggal hidrolik tertentu bertujuan untuk memberikan pasokan makanan bagi bakteri anaerob sebagai nutrisi untuk pertumbuhan. Hal ini menyebabkan degradasi semakin baik. 3 Hasil dan Pembahasan Hasil pengamatan produksi biogas dengan laju pembebanan organik yang divariasikan mulai dari 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari pada tahap operasional bioreaktor hibrid anaerob akan ditampilkan dalam bentuk grafik. 3.1 Perubahan pH Selama Transien Dilakukan pengukuran pH selama kondisi transien dengan rentang laju pembebanan organik 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari. Hasil pengukuran pH tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Perubahan pH Selama Transien Gambar 3. menunjukkan bahwa pH untuk keempat laju pembebanan organik bekerja pada rentang pH 6,1 – 7,4. pH rata-rata pada laju pembebanan organik 12,5; 16,7; 25 dan 5 5,5 6 6,5 7 7,5 8 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 pH Waktu (hari) laju pembebanan organik 12,5 kgCOD/m3hari laju pembebanan organik 16,7 kgCOD/m3hari laju pembebanan organik 25 kgCOD/m3hari laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari 50 kgCOD/m3hari yaitu 6,76; 6,46; 6,4 dan 6,18. Dari hasil pengukuran nilai pH pada kondisi transien tersebut terlihat bahwa pH aktivitas mikroorganisme berada pada rentang pH optimum aktivitas mikroorganisme anaerob. Pada rentang pH tersebut diperkirakan mikroorganisme anaerobik yang digunakan di dalam bioreaktor dapat berkembang dengan optimum mengingat kondisi lingkungan mikroorganisme anaerobik berkisar pada pH antara 5,8 – 7,2 [Ahmad, 2004]. Walaupun bakteri pembentuk metan sangat peka terhadap pH, tetapi pH dalam reaktor tidak harus dikendalikan secara ketat. Pengaturan pH dapat dilakukan dengan menjaga umpan tidak terlalu asam agar kesetimbangan reaksi antara tahap asidogenik dan metanogenik terjaga baik. Pada kondisi tanpa bantuan penyeimbang pH maka pada nilai pH dibawah 6 aktivitas bakteri metan akan mulai terganggu dan bila mencapai 5,5 aktivitas bakterial akan terhenti sama sekali. Konsetrasi pH di dalam reaktor ini sangat dipengaruhi oleh jumlah asam lemak volatil (VFA), ammonia, CO2 dan kandungan alkalinitas bikarbonat yang dihasilkan [Padmono, 2007]. Dari semua laju pembebanan organik, laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari memiliki pH paling rendah, yaitu sebesar 6,18. Hal ini menandakan bahwa produksi asam organik relatif banyak dari yang lainnya, sehingga pH sistem menurun [Hamonangan, 2001]. Banyaknya asam organik yang diproduksi menyebabkan aktivitas bakteri metanogen terganggu dan tidak mampu mengkonversi akumulasi produksi asam organik ini [Ahmad, 2004]. 3.2 Produksi Biogas Selama Transien Dilakukan pengukuran produksi biogas selama kondisi transien dengan rentang laju pembebanan organik 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari. Hasil pengukuran ini dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Produksi Biogas Selama Transien Gambar 4. menunjukkan bahwa biogas yang diproduksi pada berbagai laju pembebanan organik akan mengalami kenaikan yang signifikan. Produksi biogas pada laju pembebanan organik 16,7 kgCOD/m3hari yaitu sebesar 17.700 mL dalam waktu 28 hari. Pada laju pembebanan organik 16,7 kgCOD/m3hari dihasilkan biogas sebesar 40.000 mL dalam waktu 22 hari. Pada laju pembebanan organik 25 kgCOD/m3hari dihasilkan biogas sebesar 41.600 mL dalam waktu 14 hari. Pada laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari dihasilkan biogas sebesar 35.800 mL dalam waktu 10 hari. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa biogas yang dihasilkan semakin meningkat seiring meningkatnya laju pembebanan organik. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kemungkinan bakteri pembentuk metan yang terus beraktifitas dan mengkonsumsi bahan-bahan organik yang terkandung dalam umpan dan mendegradasi umpan (substrat) tersebut menjadi biogas [Bagus, 2008]. Suatu proses dapat dikatakan telah mencapai kondisi tunak apabila nilai COD relatif stabil. Untuk mempercepat proses dan mengoptimumkan kinerja bioreaktor, maka dilakukan peningkatan laju pembebanan 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 biogas (ml) waktu (hari) laju pembebanan organik 12,5 kgCOD/m3hari laju pembebanan organik 16,7 kgCOD/m3hari laju pembebanan organik 25 kgCOD/m3hari laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari organik umpan [Bagus, 2008]. Dari data yang diperoleh, dapat diindikasikan bahwa bioreaktor hibrid anaerob yang digunakan mampu menunjukkan performa optimal dalam keadaan laju pembebanan organik yang terus ditingkatkan, namun juga perlu melihat waktu tinggal hidrolik yang menentukan lamanya degradasi. 3.3 Pengaruh Laju Pembebanan Organik terhadap Produksi Biogas Produksi biogas pada laju pembebanan organik 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Pengaruh Laju Pembebanan Organik terhadap Produksi Biogas Gambar 5. menunjukkan bahwa laju pembebanan organik berpengaruh terhadap produksi biogas. Terlihat pada laju pembebanan organik 12,5 kgCOD/m3hari produksi biogas 17.700 mL, pada laju pembebanan organik 16,7 kgCOD/m3hari produksi biogas meningkat menjadi 40.000 mL, dan pada laju pembebanan organik 25 kgCOD/m3hari produksi biogas sebesar 41.600 mL, sedangkan pada laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari produksi biogas kembali menurun menjadi 35.800 mL. Dari data tersebut dapat ditentukan bahwa laju pembebanan optimum yaitu pada 25 kgCOD/m3hari dengan produksi biogas tertinggi yaitu 41.600 mL. Dari keempat variasi laju pembebanan organik tersebut, mulai dari laju pembebanan organik 12,5; 16,7 dan 25 kgCOD/m3hari produksi biogas meningkat, namun produksi biogas menurun saat laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Surya dan Riharjo (2011) yang menyimpulkan bahwa semakin besar tingkat pembebanan maka produksi biogas yang dihasilkan akan semakin besar. Hal ini dikarenakan semakin banyak substrat yang berkontak dengan mikroorganisme. Namun pada laju pembebanan organik 50 kgCOD/m3hari produksi biogas kembali menurun, hal ini disebabkan karena semakin cepat pula waktu kontaknya sehingga degradasi senyawa organik berlangsung sedikit yang mengakibatkan pada bioreaktor yang aktif hanya bakteri asidogenik. Sehingga diperkirakan yang banyak dihasilkan adalah H2 dan CO2 bukannya CH4 dan CO2 [Atikalidia, 2011]. Hasil tersebut sesuai dengan Mahajoeno (2010) yang menggunakan limbah cair pabrik minyak kelapa sawit menggunakan digester anaerob kolam tertutup berkapasitas 4500 m3 dengan variasi laju pengumpanan 25m3/hari sampai dengan 300 m3/hari, hasil penelitian menunjukkan bahwa volume biogas meningkat sesuai dengan peningkatan laju pengumpanan, dimana kinerja optimum bioreaktor adalah pada laju pengumpanan 200 m3/hari diproduksi biogas 10.000 m3/hari. Sedangkan Syafila et al (2003) menyatakan bahwa produksi gas metan memiliki kaitan dengan proses pembentukan asam volatil. Makin banyak asam volatil yang terbentuk, diperlukan waktu tinggal sel bakteri metan yang lebih lama untuk mengkonsumsi seluruh asam tersebut. Dengan demikian, jika waktu retensi tetap, sedangkan konsentrasi organik dinaikkan, ada kecenderungan terjadinya penurunan pembentukan. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitiannya dengan bioreaktor hibrid anaerob bermedia batu dan menggunakan limbah cair mengandung molase dan dioperasikan pada variasi konsentrasi organik 10.000, 20.000, 30.000 dan 40.000 mg/L COD, dimana produksi biogas tertinggi yaitu pada konsentrasi organik 10.000 mg/L sebesar 479 ml/hari. 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 0 10 20 30 40 50 60 Produksi Biogas (mL) Laju Pembebanan Organik (mgCOD/m3hari) 3.4 Studi Komparatif Kinerja Bioreaktor Hibrid Anaerob Kinerja bioreaktor hibrid anaerob dapat ditinjau dengan membandingkan kinerjanya dengan berbagai jenis limbah cair dan media pertumbuhan yang berbeda. Perbandingan kinerja bioreaktor tersebut ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 2. Perbandingan Produksi Biogas Menggunakan Bioreaktor Hibrid Anaerob dengan Jenis Limbah dan Media yang Berbeda Limbah Cair Media Variabel Produksi Biogas (mL/hari) Pustaka MengandungMolase Batu Konsentrasi Organik 479 Syafila et al (2003) Sawit Cangkang Sawit Laju Pembebanan Organik 340 Atikalidia (2011) Sagu Plastik Ring Laju Pembebanan Organik 30.700 Banu et al (2006) Sagu Batu Laju Pembebanan Organik 41.600 Penelitian ini (2012) Tabel 2. menunjukkan bahwa menggunakan substrat limbah cair sagu dan media batu produksi biogas yang dihasilkan optimal. Hal ini dapat terjadi karena limbah cair sagu memiliki kandungan senyawa organik yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk didegradasi menjadi biogas secara optimal, sehingga biogas yang dihasilkanpun menjadi optimal. Selain itu produksi biogas optimal karena menggunakan media batu. Karena batu memiliki kelebihan yaitu tingkat kekasaran yang cukup baik yang cocok menjadi media bagi mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang melekat membentuk lapisan biomassa. Selain itu batu mempunyai luas permukaan per unit volume yang tinggi. Karena makin luas permukaan batu, maka makin banyak pula mikroorganisme yang hidup diatasnya [Wardhana, 2004]. Selanjutnya kelompok bakteri tersebut dapat memanfaatkan substrat limbah cair sagu dan menguraikannya hingga menjadi produk akhir yaitu biogas. Sehingga semakin banyak mikrooganisme yang hidup, maka semakin banyak pula substrat yang didegradasi menjadi biogas dan biogas yang dihasilkanpun semakin tinggi. 4 Kesimpulan dan Saran Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan dan saran yaitu: 4.1 Kesimpulan 1. Laju pembebanan organik berpengaruh terhadap produksi biogas., pada saat laju pembebanan organik 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari dihasilkan biogas sebesar 17.700, 40.000, 41.600 dan 35.800 mL. 2. Pada tiap variasi laju pembebanan organik mencapai kondisi tunak (steady state) dalam waktu yang berbeda, pada saat laju pembebanan organik organik 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari dicapai kondisi tunak pada hari ke- 28, 22, 14 dan 10 hari. 3. Produksi biogas optimum yaitu pada laju pembeban organik 25 kgCOD/m3hari sebesar 41.600 mL selama 14 hari. 4.2 Saran Sebaiknya dalam penelitian digunakan GC (Gas Chromatography), sehingga dapat dianalisis komposisi senyawa-senyawa yang terkandung di dalam biogas. Daftar Pustaka Ahmad, A., 2001, Biodegradasi Limbah Cair Industri Minyak Kelapa Sawit Dalam Sistem Pembangkit Biogas Anaerob, Disertasi, Program Pascasarjana ITB, Bandung. Ahmad, A., 2004, Studi Komparatif Sumber dan Proses Aklimatisasi Bakteri Anaerob pada Limbah Cair yang Mengandung Karbohidrat, Protein dan Minyak-Lemak, Jurnal Sains dan Teknologi, 1(3), 1-10. Atikalidia, M., 2011, Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Produksi Biogas Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Cangkang Sawit, Prosiding Semina Nasional Teknik Kimia Kejuangan, Yogyakarta. Awg-Adeni, D.S., S. Abd-Aziz, K. Bujang dan M.A. Hassan, 2010, Bioconversion of Sago Residue Into Value Added Products, African Journal of Biotecnology, 14(9), 2016-2012. Bagus, I.S., 2008, Start-Up dan Perancangan Bioreaktor Anaerobik Untuk Pengolahan Limbah Cair dengan Konsentrasi Garam Tinggi, Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Banu, J.R., S. Kaliappan dan D. Beck, 2006, Treatment of Sago Wastewater Using Hybrid Anaerobic Reactor, Chemical Engineering Journal, 1(41), 56-62. Firdha, I., 2010, Penentuan Waktu Tinggal Hidrolik Terhadap Penyisihan COD (Chemical Oxygen Demand) Limbah Cair Pabrik Minyak Sawit dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob bermedia Batu, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan, Yogyakarta. Hamonangan, S., 2001, Pengolahan Limbah Cair Minyak Kelapa Sawit dengan Gabungan Proses Anaerob-Membran Tesis, Institut Teknologi Bandung, Bandung. Keputusan Menteri LH, Nomor KEP 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah cair bagi Kegiatan Industri. Mahajoeno, E., 2010, Pengembangan Energi Terbarukan Dari Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit, Institut Pertanian Bogor. Padmono, D., 2007, Kemampuan Alkaliniyas Kapasitas Peyangga (Buffer Capacity) Dalam Sistem Anaerobik Fixed Bed, Jurnal Teknik Lingkungan, 2(8), 119-127. Pavlostathis, S.G., T.L. Miller dan M.J. Wolin, 1988, Kinetics of Insoluble Cellulose Fermentation by Continuous Cultures of Ruminococcus albus, Appl. Environ. Microbiol, 11(54), 2660-2663. Riaupos, 2012, Meranti Penghasil Sagu Terbesar Ketiga di Dunia, http://www.riaupos.com, 28 April 2012. Surya dan I. Raharjo, Production Of Renewable Energy (Biogas) and Liquid Organic Fertilizer For Plants From Waste Treatment Tapioca Industrial Enviromentally, Seminar Nasional Sains dan Teknologi, Bandar Lampung. Syafila, M., A. H. Djadjadiningrat dan M. Handajani, 2003, Kinerja Bioreaktor Hibrid Anaerob dengan Media Batu untuk Pengolahan Air Buangan yang Mengandung Molase, Prosiding ITB Sains dan Teknologi, Bandung. Wardhana, A., 2004, Dampak Pencemaran Lingkungan, http://www.gedehace.blogspot.com/2006/04/anaerobic-filter.html, 26 Februari 2012. Wicahya, I., dan D.R.A. Fikri, 2010, Pengembangan Energi Terbarukan Melalui Pemanfaatan Sumber Daya Alam Indonesia Sebagai Upaya Peningkatan Ketahanan Energi Nasional, Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional. adimacpal@yahoo.co.id 081-341-825-258

sagu kendari

Kami membuka peluang kerja sama sistim fee dengan Anda mendapatkan harga petani yaitu Rp.1.500/kg I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman sagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu komoditi bahan pangan yang banyak mengandung karbohidrat, sehingga sagu merupakan bahan makanan pokok untuk beberapa daerah di Indonesia seperti Maluku, Irian Jaya dan sebagian Sulawesi. Sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan yang antara lain dapat diolah menjadi bahan makanan seperti bagea, mutiara sagu, kue kering, mie, biskuit, kerupuk dan laksa (Harsanto, 1986). Luas areal tanaman sagu di Indonesia sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Beberapa literatur yang ada memberikan data yang berbeda-beda, tetapi berdasarkan perkiraan M. Yusuf Samad (2002) luas areal sagu di Indonesia sekitar. 1.000.0000 hektar. Pada tahun 2007 luas areal sagu di Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 5.607 hektar(BPS Sultra 2007). Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sagu yang cukup luas dengan sebagian penduduknya menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok atau pun bahan makanan tambahan. Luas areal tanaman sagu di Sulawesi Tenggara semakin berkurang karena banyaknya areal sagu yang dikonversi menjadi areal persawahan dan lokasi pemukiman. Sagu di Sulawesi Tenggara tumbuh pada tiga macam kondisi lingkungan tumbuh yang berbeda, yaitu : tanah kering, tanah rawa dan pinggir sungai. Tanaman sagu ditemukan paling banyak pada kondisi tanah rawa dan paling sedikit pada kondisi tanah pinggir sungai (Kanwil Perindustrian Sultra, 1995). Sagu yang tumbuh di Sulawesi Tenggara dikenal ada empat jenis sagu dengan nama lokal setempat, yaitu : runggamanu, rui, boruwila dan roe. Tiga jenis pertama merupakan jenis sagu yang berduri, sedangkan jenis sagu roe tidak berduri. Sagu jenis roe mempunyai aci yang putih dan rasanya enak sehingga jenis sagu ini yang banyak diolah oleh penduduk setempat untuk dijadikan sebagai bahan makanan (Haryanto dan Pangloli, 1992). Beberapa hasil penelitian yang dirangkum oleh Wahid (1987) menyimpulkan bahwa tanaman sagu mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya, yaitu : (1) pohon sagu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang berawa-rawa dimana tanaman lain tidak dapat tumbuh dengan baik; (2) panen tidak tergantung musim, tahan dan mudah dalam menyimpannya; (3) pohon sagu mengeluarkan anakan sehingga panen dapat berkelanjutan tanpa melakukan penanaman ulang. Meskipun tanaman sagu cukup penting di Sulawesi Tenggara, namun perhatian terhadap tanaman sagu tidaklah sebesar dengan perhatian mereka terhadap tanaman pangan lainnya. Sagu di Sulawesi Tenggara merupakan tumbuhan yang tumbuh dalam bentuk hamparan hutan yang dipelihara sebagaimana mestinya, sampai saat ini belum ada sagu yang dibudidayakan secara intensif. Sagu dapat tumbuh di daerah rawa atau tanah marginal (kahat hara) dimana penghasil karbohidrat lainnya sukar/sulit tumbuh dengan wajar. Di indonesia, khususnya di Sulawesi Tengara pada umumnya masyarakat setempat baru memanfaatkan aci sagu sebagai bahan pakan lokal/tradisional seperti : sinonggi, kapurung, bagea dan lain-lain, serta masyarakat Sulawesi Tenggara memanfaatkan daunnya sebagai bahan atap. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan dapat dirumuskan beberapa permasalahan : 1. Jenis-jenis sagu apa saja yang terdapat di Kecamatan Abeli Kota Kendari Sultra? 2. Jenis-jenis sagu apa saja yang paling dominan di Kecamatan Abeli Kota Kendari Sultra? 3. Jenis-jenis sagu apa saja yang berpotensi untuk dikembangkan di Kecamatan Abeli kota Kendari Sultra? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis sagu yang terdapat di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Kegunaan penelitian ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam mengoptimalkan produksi tanaman sagu (Metroxylon sp) dan merupakan bahan pembanding pada penelitian selanjutnya. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Sagu (Metroxylon spp) termasuk tumbuhan monokotil dari famili Palmae, marga Metroxylon dan ordo Spadiciflorae (Ruddie et al., 1976) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Metroxylon berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, yaitu Metra berarti isi batang atau empelur dan xylon yang berarti xylem (Flach, 1977). Secara garis besar sagu digolongkan dalam dua golongan, yaitu yang berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthic) dan yang berbunga atau berbuah lebih dari sekali (Pleonanthic) (Deinum, 1984 dalam Djumadi, 1989). Golongan pertama mempunyai nilai ekonomi yang penting karena kandungan acinya tinggi. Golongan ini terdiri dari lima jenis yaitu : (1) metroxylon sagus Rottb.; (2) Metroxylon rumphii Mart.; (3) Metroylon micracanthum Mart.; (4) Metroxylon Longispinum Mart. (5) Metroxylon sylvestre Mart. Sedangkan golongan kedua terdiri dari spesies Metroxylon filarae dan Metroxylon elatum yang banyak tumbuh di dataran yang relatif tinggi. Golongan ini nilai ekonominya rendah karena kandungan acinya kurang. Karateristik dari masing-masing jenis sagu yang tumbuh di Sulawesi Tenggara dengan ciri morfologi sebagai berikut: 1. Runggamanu atau Tuni Tinggi batang sekitar 10 – 15 meter, tebal kulit 2 -3 cm. Daunnya berwarna hijau tua dengan tangkai daun berwarn hijau kekuningan. Panjang tangkai daun sekitar 6,85 meter, sedangkan pnjang pelepah daun sekitar 2,71 meter, tangkai daun berduri pada pangkal sampai ujung pinggiran daun. Pada anakan sagu durinya sangat banyak dan rapat. Setiap tangkai daun terdiri atas 100-200 helai daun dengan panjang 151-155 cm dan lebar 8,1-9,1 cm (Tenda et al. 2003). Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) produksi tepung sagu tuni di Sulawesi Tenggara dapat mencapai 250-300 kg. Sagu ini merupakan jenis sagu yang paling besar ukurannya dibandingkan dengan jenis lainnya (Manan et al. 1984) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). . 2. Roe atau Molat Tinggi batang sekitar 10-14 meter, diameter sekitar 40-60 cm dan berat batang mencapai 1,2 ton atau lebih. Jenis sagu ini tidak berduri, ujung daun panjang meruncing sehingga dapat melukai orang bila menyentunya. Letak daun berjauhan, panjang tangkai daun sekitar 4-6 meter, panjanhg lembaran daun sekitar 1,5 meter dan lebernya sekitar 7 cm. Bunganya adalah bunga majemuk berwarna sawo matang kemerah-merahan. Empulurnya lunak dan berwarna putih. Berat empulur sekitar 80% dari berat batang dan kandungn acinya sekitar 18%. Setiap pohon dapat menghsilkan aci basah sekitar 800 kg atau sekitar 200 kg aci kering (Haryanto dan Pangloli, 1992). 3. Barowila Jenis sagu ini mempunyai tinggi batang sekitar 10 meter dengan dimeter sekitar 40-50 cm. Pelepah berwarna hijau keputih-putihan, empulurnya lunak dan berwarna putih. Setiap pohon dapt menghasilkan sekitar 120 kg aci kering. Produksi tepung sagu jenis barowila sangat sedikit jika dibandingkan dengan jenis sgu lainnya (Haryanto dan Pangloli, 1992). 4. Rui atau Rotan Jenis sagu ini dicirikan dengan tinggi batang yang relatif lebih pendek yaitu 7,20 meter, dengan diameter batang sekitar 40 cm. Panjang tangkai daun dapat mencapai 6,07 meter, sedangkan panjang pelepah daun sekitar 3,56 meter. Setiap tangkai daun terdiri atas 100-200 helai daun yang berwarna hijau dengan panjang daun antara 130-147 cm dan lebar daun 6-7 cm. Sagu ini memiliki empulur agak keras, mengandung banyak serat, dan berwarna kemerh-merahan serta kandungan aci paling sedikit (Tenda et al. 2003). Kandungan aci dalam empulur hanya sekitar 200 kg per pohon dan rasanya kurng enak (soerjono, 1980) dalam Harynto dan Pangloli (1992). B. Morfologi sagu Sagu tumbuh dalam bentuk rumpun. Setiap rumpun terdiri dari 1-8 batang sagu, pada setiap pangkal tumbuh 5-7 batang anakan. Pada kondisi liar rumpun sagu akan melebar dengan jumlah anakan yang banyak dalam berbagai tingkat pertumbuhan (Harsanto, 1986). Lebih lanjut Flach (1983) dalam Djumadi (1989) menyatakan bahwa sagu tumbuh berkelompok membentuk rumpun mulai dari anakan sampai tingkat pohon. Tajuk pohon terbentuk dari pelepah yang berdaun sirip dengan tinggi pohon dewasa berkisar antara 8-17 meter tergantung dari jenis dan tempat tumbuhnya. C. Batang Batang sagu merupakan bagian terpenting karena merupakan gudang penyimpanan aci atau karbohidrat yang lingkup penggunaannya dalam industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, alkohol dan bermacam-macam industri lainnya (Haryanto dan Pangloli, 1992). Batang sagu berbentuk silinder yang tingginya dari permukaaan tanah sampai pangkal bunga berkisar 10-15 meter, dengan diameter batang pada bagian bawah dapat mencapai 35 samapi 50 cm (Harsanto, 1986), bahakan dapat mencapai 80 sampai 90 cm (Haryanto dan Pangloli, 1992). Umumnya diameter batang bagian bawah agak lebih besar daripada bagian atas, dan batang bagian bawah umumnya menagndung pati lebih tinggi daripada bagian atas (Manuputty, 1954 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992) Pada waktu panen berat batang sagu dapat mencapai lebih dari dari 1 ton, kandungan acinya berkisar antara 15 sampai 30 persesn (berat basa), sehingga satu pohon sagu mampu menghasilkan 150 sampai 300 kg aci basah (Harsanto, 1986; Haryanto danPangloli, 1992). D. Daun Daun sagu berbentuk memanjang (lanceolatus), agak lebar dan berinduk tulang daun di tengah, bertangkai daun dimana antara tangkai daun dengan lebar daun terdapat ruas yang mudah dipatahkan (Harsanto, 1986). Daun sagu mirip dengan daun kelapa mempunyai pelepah yang menyerupai daun pinang. Pada waktu muda, pelepah tersusun secara berlapism tetapi setelah dewasa terlepas dan melekat sendiri-sendiri pada ruas batang (Harsanto, 1986; Haryanto dan Pangloli, 1992). Menurut Flach (1983) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) menyatakan bahwa sagu yang tumbuh pada tanah liat dengan penyinaran yang baik, pada umur dewasa memiliki 18 tangkai daun yang panjangnya sekitar 5 sampai 7 meter. Dalam setiap tangkai sekitar 50 pasang daun yang panjangnya bervariasi antara 60 cm sampai 180 cm dan lebarnya sekitar 5 cm. Pada waktu muda daun sagu berwarna hijau muda yang berangsur-angsur berubah menjadi hijau tua, kemudian berubah lagi menjadi coklat kemerah-merahan apabila sudah tua dan matang. Tangkai daun yang sudah tua akan lepas dari batang (Harsanto, 1986). E. Bunga dan Buah Tanaman sagu berbunga dan berbuah pada umur sekitar 10 sampai 15 tahun, tergantung jenis dan kondisi pertumbuhannya dan sesudah itu pohon akan mati (Brautlecht, 1953 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992). Flach (1977) menyatakan bahwa awal fase berbunga ditandai dengan keluarnya daun bendera yang ukurannya lebih pendek daripada daun-daun sebelumnya. Bunga sagu merupakan bunga majemuk yang keluar dari ujung atau pucuk batang sagu, berwarna merah kecoklatan seperti karat (Manuputty, 1954 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992). Sedangkan menurut Harsanto (1986), bunga sagu tersusun dalam manggar secara rapat, berkuran secara kecil-kecil, waranya putih berbentuk seperti bunga kelapa jantan dan tidak berbau. Bunga sagu bercabang banyak yang terdiri dari cabang primer, sekunder dan tersier (Flach, 1977). Selanjutnya dijelaskan bahwa pada cabang tersier terdapat sepasang bunga jantan dan betina, namun bunga jantan mengeluarkan tepung sari sebelum bunga betina terbuka atau mekar. Oleh karena itu diduga bahwa tanaman sagu adalah tanaman yang menyerbuk silang, sehingga bilamana tanaman ini tumbuh soliter jarang sekali membentuk buah. Bilamana sagu tidak segera ditebang pada saat berbunga maka bunga akan membentuk buah. Buah bulat kecil, bersisik dan berwarna coklat kekuningan, tersusun pada tandan mirip buah kelapa (Harsanto, 1986). Waktu antara bunga mulai muncul sampai fase pembentukan buah diduga berlangsung sekitar dua tahun (Haryanto dan Pangloli, 1992). F. Lingkungan Tumbu Tanaman Sagu Tanaman sagu merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah khatulistiwa, di daerah tepi pantai dan sepanjang aliran sungai pada garis lintang antara 10˚ LU dan 10˚ LS dan pada ketinggian 300 sampai 700 meter di atas permukaan laut (dpl), mempunyai curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun (Tan, 1982; Harsanto, 1986). Menurut Harsanto (1986) bahwa jumlah curah hujan yang menguntungkan bagi pertumbuhan sagu diduga antara 2000 sampai 4000 mm per tahun, tersebar merata sepanjang tahun dengan temperatur rata-rata 24˚C sampai 30˚C. Lingkungan yang baik untuk pertumbuhan sagu adalah daerah yang berlumpur, dimana akar napas tidak terendam, kaya mineral dan bahan organik, air tanah berwarna cokelat dan bereaksi agak asam (Flach, 1977). Selanjutnya dikatakan habitat yang demikian cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman sagu. Pada tanah-tanah yang tidak cukup mengandung mikroorganisme pertumbuhan sagu kurang baik. Selain itu pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar terutama unsur P, K, Ca, dan Mg. Apabila akar napas sagu terendam terus menerus, maka pertumbuhan sagu terhambat dan pembentukan aci atau karbohidrat dalam batang juga terhambat. Selain kondisi tersebut di atas, sagu juga dapat tumbuh pada tanah-tanah organik akan tetapi sagu yang tumbuh pada kondisi tanah demikian menunjukkan berbagai gejala kekahatan beberapa unsur hara tertentu yang ditandai dengan kurangnya jumlah daun dan umur sagu akan lebih panjang yaitu sekitar 15 sampai 17 tahun (Flach, 1977). Sagu banyak juga yang tumbuh dengan baik secara alamiah pada tanah liat yang berwarna dan kaya akan bahan-bahan organik seperti di pinggir hutan mangrove atau nipah. Selain itu, sagu juga dapat tumbuh dengan tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya (Manan et al., 1984 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992). III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Penelitian ini berlangsung dari bulan April sampai Juni 2008. B. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kertas, sedangkan alat yang digunakan meliputi; kamera, meteran, alat tulis, alat untuk mengidentifikasi penyebaran tanaman sagu. C. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yaitu survei bebas. Penentuan wilayah yaitu wilayah Kecamatan Abeli yang ditumbuhi tanaman sagu dan kriteria sagu unggul adalah usia panen tidak lebih dari 11 tahun, populasi batang per rumpun lebih dari 15 batang, produksi sagu basah minimal 200 kg/batang. D. Prosedur Penelitian Variabel yang akan diamati meliputi : 1. Batang (tinggi, diameter dan ketebalan kulit) 2. Daun (bentuk, warna, panjang, duri) 3. Jumlah anakan (kurang, sedang, banyak) 4. Usia panen dan produksi per batang. E. Analisis Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara statistik deskripsi. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa ada tiga jenis sagu yang tersebar di Kec. Abeli yaitu Tuni/Runggumanu (Metroxylon Rumphii Martius), Molat/Roe (Metroxylon Sagus Rottbol) dan Rotan/rui (Metoxylon Microcanthum Martius) Ciri-ciri dari ketiga jenis sagu tersebut adalah: 1. Metroxylon Rumphii Martius. Tinggi batang sekitar 10-15 cm bahkan dapat mecapai 18 meter atau lebih, dan tebal kulit sekitar 2-3 cm. Kulit pada bagian pangkal batang lebih tebal dari pada kulit pada bagian tengah atau bagian ujung batang. Diameter sekitar 40-60 cm. Daun berwarna hijau tua, dan panjang tangkai daun sekitar 5-7 meter. Tangkai daun berduri pada pada pangkal sampai ujung, juga pada bagian daunnya. Panjang duri sekitar 1-4 cm pada anakan sagu durinya sangat banyak dan rapat. Setiap tangkai daun terdiri dari 100-200 anak daun yang panjangnya 80-120 cm dan lebarnya 5-10 cm. Berat batang pada umur panen lebih 1 ton. Empulurnya lunak dan mudah di tokok. Kadar empulurnya sekitar 82% dari berat batang dan dan kandungan aci sekitar 20%. acinya berwarna putih dan enak rasanya. Setiap pohon dapat menghasilkan 170-500 kg aci kering (Soerjono,1980) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) sagu ini merupakan jenis sagu yang paling besar ukurannya dibandingkan denga jenis lainnya (Manan, dkk. 1984) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). 2. Metroxylon Sagus Rottbol. Tinggi batang sekitar 10-14 meter, tidak berduri, diameter sekitar 40-60 cm dan berat batang sekitar 1,2 ton atau lebih. Jenis sagu ini tidak berduri, ujung daun meruncing sehingga dapat melukai orang jika tersentuh. Panjang daun sekitar 7,40 meter yang tersusun atas 100-200 helai daun berwarna hijau dengan panjang berkisar antara 1,54-1,55 meter dan lebar 9 cm. Bunganya adalah bunga majemuk berwarna sawo matang kemerah-merahan. Empulurnya lunak dan berwarna putih, oleh karena itu acinya berwarna putih dan rasanya enak dan disukai penduduk. Berat empulur sekitar 80% dari berat batang dan kandungan acinya sekitar 18% (Rumalatu, 1981) dalam Haryanto dan Pangaloli. (1992). Setiap pohon dapat menghasilkan aci basah sekitar 800 kg atau sekitar 200 kg aci kering (Manuputy, 1954 dan Soeryono, 1980) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Tenda et. al. (2003) menerangkan bahwa produksi tepung dari sagu molat dapat mencapai 400 Kg. 3. Metroxylon Micracanthum Martius. Tinggi batang sekitar 8 meter, dan diameter sekitar 40 cm. Panjang tangkai daun sekitar 6 meter sedangkan panjang pelepah daun sekitar 3,56 meter. Setiap tangkai daun terdiri atas 100-200 helai daun yang berwarna hijau dengan panjang daun sekitar 130-147 cm dan lebar daun sekitar 8,6 cm. Pada tangkai daun terdapat banyak duri atau duar rapat dan pada pinggir daun penuh duri. Sagu rotan memiliki empulur agak keras, mengandung banyak serat dan berwarna kemerah-merahan serta kandungan aci paling sedikit hanya sekitar 200 kg dan rasanya kurang enak (Soerjono, 1980) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Tinggi Batang , Diameter Batang Dan Tebal Kulit Batang Tinggi batang, diameter batang dan tebal kulit disajikan pada tabel 1. Pada umumnya jenis sagu tuni memiliki tinggi batang tertinggi, diameter batang yang lebih besar dan mempunyai ketebalan kulit yang lebih tebal bila dibandingkan jenis sagu molat dan jenis sagu rotan. Tabel 1. Tinggi batang, diameter batang, tebal kulit batang berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. Parameter Batang Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Tinggi Batang (m) 10 11 8 11 10 8 11 10 9 12 11 9 Diameter batang (cm) 58.86 49.32 42.95 58.86 57.27 44.59 53.13 54.41 40.41 60.45 50.91 45.48 Tebal kulit batang (cm) 2,8 2,3 2,4 2,7 2,6 2,3 2,4 2,4 2,1 3 2,7 2,5 Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M Bentuk Daun, Warna Daun, Panjang Daun dan Duri Daun Bentuk daun, warna daun, panjang daun dan duri daun, disajikan pada tabel 2. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jenis sagu memiliki daun terpanjang dibandingkan dengan sagu molat sedangkan jenis sagu rotan memiliki panjang daun terpendek. Bentuk daun dari tiga jenis sagu ini yaitu menyirip. Warna daun jenis sagu tuni hijau tua, sedangkan warna daun jenis sagu molat dan sagu rotan berwarna hijau. Duri daun dari tiga jenis sagu ini berduri. Tabel 2. Bentuk daun, Warna daun, Panjang daun, Duri daun berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. Parameter Daun Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Bentuk daun Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Me-nyirip Warna daun Hijau tua Hijau Hijau Hijau tua Hijau Hijau Hijau tua Hijau Hijau Hijau tua Hijau Hijau Panjang daun (m) 7,10 7 6,40 7 7,70 6,20 6,70 6,80 5,90 7,60 7,50 6,10 Duri daun Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Ber-duri Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Micracanthum M Jumlah Anakan Jumlah anakan disajikan pada tabel 3. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jenis sagu molat memiliki anakan yang terbanyak, sedangkan jenis sagu tuni memiliki anakan yang sedang dan hampir sama dengan jenis sagu rotan. Tabel 3. Jumlah anakan bebagai jenis sagu dari dari masing-masing lokasi penelitian Jumlah anakan Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Kurang √ √ √ Sedang √ √ √ √ √ Banyak √ √ √ √ Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M Usia Panen Usia panen disajikan pada tabel 4, tabel tersebut menunjukkan bahwa jenis sagu tuni memiliki usia panen yang lebih lama dan relatif sama dengan jenis sagu molat, sedangkan jenis sagu rotan memiliki usia panen yang lebih cepat. Tabel 4 Usia panen berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian Parameter Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Usia panen (umur) 10 10 9 11 10 8 10 9,5 8 12 10 10 Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M Produksi Perbatang Produksi perbatang disajikan pada tabel 5. tabel tersebut menunjukan bahwa jenis tunimemiliki produksi perbatang lebih tinggi di ikuti sagu molat, sedangkan jenis sagu rotan memiliki produksi perbatang yang ter rendah. Tabel 5. Produksi perbatang berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian Parameter produksi Lokasi penelitian/jenis sagu Kel. Abeli Kel. Tobimeita Kel. Nambo Kel. Tonoggeu Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Mr Ms Mm Berat tepung sagu biasa (Kg per 1 pohon) 450 400 150 500 450 200 400 400 200 500 450 250 Keterangan : Mr = Metroxylon rumphii M, Ms = Metroxylon Sagus R, Mm = Metroxylon Microcanthum M B. Pembahasan Hasil penelitian menunjukan bahwa sagu yang dominan adalah jenis sagu molat diikuti dengan jenis sagu tuni, dan jenis sagu rotan hampir punah. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) jenis sagu molat banyak disukai masyarakat karena acinya berwarna putih dan enak rasanya, disamping itu mudah dilakukan pengolahan karena jenis sagu ini tidak berduri dan empulurnya lunak sehingga mudah di tokok Jenis sagu rotan kurang disukai oleh masyarakat setempat karena sagu ini berduri rapat dapat melukai orang yang menyentuhnya. Disamping itu empulurnya agak keras dan banyak mengandung serat serta acinya berwarna kemerah-merahan dan rasanya kurang enak. Produksi sagu rotan hanya dapat mencapai 200 kg kandungan acinya. Menurut Harsanto (1986) jenis sagu yang paling rendah produksinya dibandingkan dengan jenis sagu lainnya. Jenis sagu tuni memiliki batang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu molat dan sagu rotan, demikian pula pada diameter batang kecuali pada jenis sagu rotan memiliki ukuran diameter batang yang kecil. Hal ini sesuai yang dinyatakan oleh Ramalutu (1985) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Bahwa jenis sagu tuni mempunyai ukuran tinggi batang 10-20 meter, dengan diameter 70-100 cm, selanjutnya Manan Dkk (1994). Dalam Haryanto dan Pangloli (1992) menyatakan bahwa jenis sagu tuni adalah jenis sagu yang paling besar ukurannya di bandingkan dengan jenis sagu lainnya. Sedangkan dengan jenis sagu molat ukurannya sedang dan dengan jenis sagu rotan diameter batangnya kecil. (Harsanto, 1986). Menurut Rumalatu (1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992 ) menyatakan bahwa perbedaan tinggi batang dari setiap jenis sagu pada tingkat umur dan lingkungan dan lingkungan yang sama tergantung dari sifat genetis dan kemampuan pertumbuhannya. Jenis sagu yang memiliki sifat genetis dan daya adaptasi terhadap lingkungan yahg baik akan memperlihatkan pertumbuhan yang baik pula. Jenis sagu tuni memiliki diameter batang terbesar, jenis sagu molat memiliki diameter batang sedang, dan jenis sagu rotan memiliki diameter batang yang lebih kecil. Hal ini sesuai yang dinyatakan Haryanto dan Pangloli (1992) yang menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki diameter batang 50-60 cm, jenis sagu molat memiliki diameter batang 40-60 cm dan jenis sagu rotan memiliki diameter batang sekitar 40 cm. Adanya perbedaan ukuran tersebut diduga adanya toleransi dan kemampuan suatu jenis sagu dalam memperoleh kebutuhan unsur hara, mineral, bahan organik dah kecocokan pH air tanah dalam suatu lingkungan tumbuh, dengan demikian jenis sagu yang mampu memenuhi kebutuhannya dalam jumlah maksimal akan menampakan pertumbuhan yang lebih baik. Harsanto (1986) menyatakan bahwa jenis sagu tuni mempunyai diameter yang paling besar, sagu molat mempunyai diameter batang sedang, dan jenis sagu rotan mempunyai batang diameter yang kecil. Jenis sagu tuni memiliki panjang daun yang paling panjang disusul dengan jenis sagu molat, dan jenis sagu rotan memiliki panjang daun yang paling pendek. Perbedaan ukuran daun tersebut disebabkan karena perbedaan sifat genetis dan morfologis dari ketiga jenis sagu (Haryanto dan Pangaloli, 1992 ). Jenis sagu molat memiliki jumlah anakan yang banyak, sedangkan jenis sagu tuni dan jenis sagu rotan jumlah anakannya relatif sama. Hal ini diduga ada hubungannya dengan jenis-jenis sagu tersebut dalam pengelolaannya. Pada jenis sagu molat sering dilakukan penebangan terhadap pohon yang siap panen secara terus menerus karena jenis sagu ini memiliki kandungan aci yang putih dan rasanya enak sehingga banyak disenangi dan disukai masyarakat (Haryanto dan Pangloli, 1992) hal ini mendorong anakan yang tumbuh dari induk yang di panen cenderung keluar untuk menjauhi induknya sehingga memperluas jumlah anaknya. Selanjutnya Haryanto dan Pangloli (1992) menjelaskan bahwa tanaman sagu akan menghasilkan anakan secara berurutan dengan pola anak beranak yang selanjutnya membentuk rumpun yang lebih luas. Jenis sagu rotan dibiarkan tumbuh secara liar dan tidak ada usaha pemeliharaan. Lebih lanjut Haryanto dan Pangloli (1992) menjelaskan bahwa populasi tanaman sagu tergantung dari jenis, daerah produksi dan perlakuan yang diberikan selama masa pertumbuhan dimana pertumbuhan sagu yang dipelihara atau dibudidayakan populasinya lebih padat dari pada yang tumbuh secara liar. Pada jenis sagu rotan usia panennya lebih cepat, kemudian diikuti jenis sagu molat, sedangkan usia panen pada jenis sagu tuni lebih lama. Hal tersebut berhubungan erat dengan tinggi batang dan jumlah daun, artinya batang yang tinggi dan daun yang banyak secara umum mempengaruhi usia sagu. Semakin banyak jumlah daun terbentuk dan tinggi batang lebih tinggi maka semakin lama usia panen yang dilakukan. Dengan demikian tinggi batang dan jumlah daun pada sagu jenis molat sangat mendukung untuk memiliki usia panen yang lebih panjang. Hasil ini sama dengan yang dilaporkan Haryanto dan Pangloli (1992) bahwa jenis sagu tuni memiliki usia panen yang lebih panjang dengan tinggi batang bahkan mencapai 18 meter. Adanya perbedaan usia sagu tersebut di duga kerena adanya perbedaan sifat morfologis dan kondisi linkungan tumbuh. Produksi aci sagu perbatang yang tertinggi terdapat pada jenis sagu tuni diikuti jenis sagu molat. Sedangkan jenis sagu rotan memiliki produksi aci sagu perbatang paling rendah, tingginya produksi jenis sagu tuni karena memiliki jumlah daun yang banyak dan tinggi batang yang relatif tinggi dibandingkan dengan jenis sagu lainnya. Menurut Flach (1977) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) menyatakan bahwa kandungan aci dalam batang sagu semakin lama semakin bertambah banyak dan apabila sagu mendapatkan sinar matahari yang cukup selama pertumbuhannya, kandungan aci dalam batangnya meningkat secara linear sampai terjadi pembentukan bunga. Selain faktor lingkungan kandungan aci dalam batang sagu dipengaruhi oleh umur dan jenisnya (Rumalatu, 1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992). Semakin besar ukuran diameter batang sagu maka aci yang dihasilkan semakin besar pula. Jumlah populasi sagu di Kecamatan Abeli Kota Kendari semakin berkurang karena sebagian wilayah tanaman sagu digunakan untuk daerah pemukiman, persawahan, tambak, dan kurangnya pemeliharaan pada tanaman sagu. Untuk mengatasi kepunahan tanaman sagu maka perlu diadakan pembudidayaan sagu dan memilih tanaman sagu yang mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan tumbuh dan keadaan iklim setempat. Jenis sagu yang cocok untuk dikembangkan dilokasi penelitian adalah jenis sagu molat dan jenis sagu tuni karena kedua jenis sagu ini memiliki keunggulan yaitu mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan tumbuh dan iklim setempat, empulurnya mudah ditokok, kadar empulurnya banyak dan rasanya enak, acinya berwarna putih. Hal ini sesuai yang dinyatakan Haryanto dan Pangloli (1992) bahwa jenis sagu tuni dan jenis sagu molat memiliki empulur yang lunak sehingga mudah ditokok, acinya berwarna putih, dan rasanya enak sehingga sangat disukai oleh penduduk setempat. Keunggulan lain dari kedua jenis sagu ini memiliki diameter batang yang lebih besar bila dibandingkan dengan jenis sagu lain, juga memiliki produksi yang lebih tinggi. V. KESIMPULAN DAN SARAN. A . Kesimpulan 1. Jenis-jenis sagu yang tersebar di Kecamatan Abeli Kota Kendari ada tiga jenis yaitu Tuni/Runggamanu (Metroxylon Rumphii Martius), olat/Roe (Metroxylon Sagus Rottbol ) dan Rotan/Rui (Mitroxylon Micrachantum Martius) 2. Jenis sagu yang dominan di Kecamatan Abeli Kota Kendari adalah jenis sagu molat. 3. Jenis sagu tuni mempunyai mempunyai batang yang lebih tinggi dengan lingar batang lebih besar dibandingkan dengan dua jenis sagu lainnya, sehingga produksi yang dihasilkan lebih tinggi. 4. Pada umumnya jumlah anakan dari ketiga jenis sagu relatif tidak merata sehingga jarak populasi dalam satu rumpun nampak tidak teratur. 5. Secara umum jenis sagu yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah jenis sagu molat dan jenis sagu tuni karena kedua jenis tersebut mempunyai kandungan aci yang tinggi. B. Saran Diharapkan kepada pemerintah, petani pengelola sagu serta pihak yang berkepentigan dalam pengembangan tanaman sagu terhadap jenis molat secara intensif maupun ekstensif guna memenuhi cadangan pangan serta untuk komersialisasi sagu di masa mendatang. DAFTAR ISI ABSTRAK i HALAMAN PENGESAHAN ii DAFTAR ISI iii DAFTAR TABEL iv I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan dan Kegunaan 3 II TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi 4 B. Morfologi Sagu 5 C. Batang 5 D. Daun 6 E. Bunga dan Buah 7 F. Lingkungan Tumbuh Tanaman Sagu 8 III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu 10 B. Bahan dan Alat 10 C. Metode Penelitian 10 D. Prosedur Kerja 10 E. Analisis Data 10 IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 11 B. Pembahasan 16 V PENUTUP A. Kesimpulan 22 B. Saran 22 DAFTAR PUSTAKA Harsanto, P.B., 1986. Budidaya dan Pengolahan Sagu. Kanisius. Yogyakarta. Haryanto, B. Dan Pangloli, P., 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius. Yogyakarta. Jumadi, A., 1989. Sistem Pertanian Sagu di Daerah Luwu Sulsel. Thesis Pasca Sarjana IPB. Bogor. Kantor Wilayah Perindustrian Sultra, 1983. Profil Pengembangan Industri Pengolahan Sagu. Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah. Kendari. Kantor Wilayah Perindustrian Sultra, 1995. Profil Pengambangan Industri Pengolahan Sagu. Kendari. Tenda, E.T, H.F. Mangindaan dan J. Kumaunang. Eksplorasi Jenis-Jenis Sagu Potensial di Sulawesi Tenggara. Makalah Poster Pada Seminar Nasional Sagu Untuk Ketahanan Pangan. Manado, 6 Oktober 2003. ABSTRAK La Siami (DIB11009). Identifikasi Jenis-Jenis Sagu (Metroxylon sp) di Kecamatan Abeli Kota Kendari. (Dibimbing oleh Dirvamena Boer sebagai Pembimbing I dan Muhidin sebagai Pembimbing II). Suatu penelitian untuk mengetahui jenis-jenis sagu dan sagu yang dominan di Kecamatan Abeli Kota Kendari. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis-jenis sagu yang ad di Kecamatan Abeli Kota Kendari terdiri dari tiga jenis yaitu Metroxylon rumphii Martius (tuni/ runggamanu), Metroxylon sagus Rottbol (molat/roe) dan Metroxylon micracanthum Martius (rotan/rui). Jenis sagu yang dominan penyebarannya adalah Metroxylon sagus Rottbol (molat/roe). Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki tinggi batang tertinggi, diameter batang terbesar dibandingkan dengan jenis sagu molat dan jenis sagu rotan. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki panjang daun yang terpanjang disusul sagu molat, sedangkan jenis sagu rotan memiliki panjang daun terpendek. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu molat memiliki jumlah anakan yang terbanyak disusul sagu tuni, sedangkan jenis sau rotan memiliki jumlah anakan yang kurang. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis sagu tuni memiliki usia panen lebih lama diikuti jenis sagu molat sedangkan jenis sagu rotan memiliki siap panen yang cepat. Jenis sagu tuni memiliki produksi perbatang yang tinggi diikuti jenis sagu molat sedangkan jenis sagu rotan memiliki produksi perbatang yang terendah. Dapat disimpulkan bahwa jenis sagu tuni dan jenis sagu molat mempunyai potensi untuk dikembangkan karena memiliki sifat genetis yang baik dan adaptasi terhadaplingkungan yang baik serta kandungan acinya lebih tinggi. HALAMAN PENGESAHAN Judul : Identifikasi Jenis-Jenis Sagu (Metroxylon sp) di Kecamatan Abeli Kota Kendari Nama : La Siami Stambuk : D1B1 01 009 Prog. Studi : Agronomi Jurusan : Budidaya Pertanian Fakultas : Pertanian Menyetujui : Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Dirvamena Boer, M.Sc. Agr. Ir. Muhidin, M.Si NIP. 131 956 602 NIP. 132 008 122 Mengetahui Ketua Program Studi Agronomi, Ir. Rachmawati Hasid, M.Si NIP. 131 960 78 DAFTAR TABEL No. Teks Halaman 1. Tinggi batang, diameter batang, tebal kulit batang, berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian 13 2. Bentuk daun, warna daun, panjang daun, duri daun, dan tipe pelepah daun, berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. 14 3. Jumlah anakan berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian 14 4. Usia panen berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian 15 5. Produksi perbatang berbagai jenis sagu dari masing-masing lokasi penelitian. 15 raditcellular@gmail.com adimacpal@yahoo.co.id FB.Adi Macpal Hp.081-341-825-258 085-378-888-559

Optimalisasi Pengolahan Pati Sagu menjadi Biofuel

Optimalisasi Pengolahan Pati Sagu menjadi Biofuel INOVASI PERKEBUNAN – Optimalisasi Pengolahan Pati Sagu menjadi Biofuel dengan Efisiensi Biaya Hingga 70%. Kebutuhan energi berupa bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin dan minyak tanah semakin meningkat, sedangkan ketersediaan cadangan sumber BBM dalam negeri sangat terbatas serta penggunaannya berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk itu, sangat diperlukan sumber bahan bakar terbarukan yang praktis penggunaannya, harga relatif murah dan ramah lingkungan. Salah satu sumber energi terbarukan adalah biofuel dari tanaman sagu. Kebutuhan energi berupa bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin dan minyak tanah semakin meningkat, sedangkan ketersediaan cadangan sumber BBM dalam negeri sangat terbatas serta penggunaannya berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk itu, sangat diperlukan sumber bahan bakar terbarukan yang praktis penggunaannya, harga relatif murah dan ramah lingkungan. Salah satu sumber energi terbarukan adalah biofuel dari tanaman sagu. Sagu merupakan tanaman asli Indonesia, dengan luas areal sekitar 1,128 juta ha atau 51,3% dari luas areal sagu dunia. Daerah potensial penghasil sagu di Indonesia meliputi Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Sekitar 90% areal sagu di Indonesia terdapat di Papua (Budianto, 2003). Sagu termasuk tanaman potensial penghasil pati untuk bahan baku pembuatan etanol. Pati sagu mengandung kadar amilosa 23-27%, kadar amilopektin 70-80% (Whistler dan BeMiller, 1997). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknik proses etanol absolut dari sagu skala kecil – menengah dan teknologi produksi biogas berbasis ampas sagu yang terintegrasi dengan pengolahan etanol dari pati sagu. Hasil yang telah diperoleh pada tahun 2009 antara lain (1) destilator-dehidrator sistem sinambung memiliki kapasitas olah (input)100 liter dengan menggunakan bahan etanol sagu dengan kadar alkohol 32-52 % dapat menghasilkan etanol dengan kadar 93 %, (2) bahan baku pati sagu tidak berduri memiliki rendemen dan kadar etanol lebih tinggi dibandingkan sagu berduri (3) Destilator-dehidrator sistem sinambung lebih sesuai untuk digunakan oleh kelompok tani dan usaha kecil menengah (4) Peralatan biogas dengan kapasitas olah 200 l pada fermentasi 28-35 hari telah menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. raditcellular46@gmail.com adimacpal@yahoo.co.id FB. Adi Macpal

peluang bisnis sagu basah

Kami menawarkan kerjasama pembelian sagu basah sistim fee harga langsung dari petani yaitu Rp.1.500/kg call/sms: 085378888559 atau 081341825258 PUSTAKA IPTEK Jurnal Saint dan Teknologi BPPT Link Terkait: [ Resensi Buku Ilmiah ] [ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ] [ Link Perpustakaan ] V4.n5.03 JUDUL : MENINGKATKAN PRODUKSI INDUSTRI KECIL SAGU MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI EKSTRAKSI SEMI MEKANIS PENGARANG : M. Yusuf Samad Abstract Conventional extraction method of handling sago flour (dried starch) that habitually accepted by home-based industries make usually low productivity. Semi-mechanical extraction method is a system which had a several process (dextruction, mixing and filtering) moved by engine power are requaired to increase of productivity and quality of product. In Kendari regency, experiment by semi-mechanical extraction showed that handling 1,5 ton of raw material (sago pith) produced 300 kg dried starch/8hours with effeciency of 80% or 90 ton/year (handling frequency of 300). The same number of raw material, conventional extraction produced only 600 kg wet starch in egual 250 kg dried starch /6days with effeciency of 67% or 6 ton/year (handling frequency of 24). Katakunci : Sagu, ekstraksi, produksi, industri kecil Sumber : Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.4, No.5, (Agustus 2002), hal. 11-17 Humas-BPPT/ANY PENDAHULUAN Sagu adalah salah satu sumber karbohidrat yang mencakup potensial dalam pengertian bahwa Indonesia memiliki hamparan hutan sagu seluas lebih 1 juta hektar. Pada beberapa kali simposium sagu baik nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Indonesia termasuk satu dari 2 negara yang memiliki areal sagu terbesar di dunia selain Papua Nugini. Areal sagu seluas ini belum di eksploitasi secara maksimal sebagai penghasil tepung sagu untuk bahan kebutuhan lokal (pangan) maupun untuk komoditi ekspor. Sangat rendahnya pemanfaatan areal sagu yang hanya sekitar 0,1% dari total areal sagu nasional disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu sebagai akibat dari rendahnya kemampuan dalam memproduksi tepung sagu melebihi kebutuhan masyarakat lokal, rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi bentuk-bentuk produk lanjutannya, kondisi geografis dimana habitat tanaman sagu umumnya berada pada daerah marginal/rawa-rawa yang sukar dijangkau, serta adanya kecenderungan masyarakat menilai bahwa pangan sagu adalah tidak superior seperti halnya beras dan beberapa komoditas karbohidrat lainnya. Untuk pembenahan masalah tersebut dalam jangka pendek realistis dapat dilakukan adalah pembenahan terhadap keterbatasan kemampuan masyarakat dalam memproduksi tepung sagu. Jika masyarakat memiliki teknik dan ketrampilan memadai maka produk sagu akan menjadi bahan berharga, digemari masyarakat luas dan dapat menjadi komoditas bisnis. Dalam kondisi demikian dampak dari faktor lainnya akan menjadi lebih ringan. Masalah keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang teknik pengolahan sagu tercermin dari rendahnya produksi tepung sagu masyarakat sebagai akibat penggunaan alat yang masih konvensional seperti alat penokok/ penggerak/mesin parut dan alat proses lainnya yang tidak sesuai dengan morfologi dan sifat fisik-kimia sagu. Selain rendahnya kapasitas produksi, tenaga manusia sebagai penggerak cukup besar dan melelahkan. Survai ke tempat pengrajin sagu di Kabupaten Kendari menunjukkan bahwa untuk mendapatkan ± 30 “basong sagu” (1 basong = ± 20 kg sagu basah yang dikemas dengan daun sagu) dipekerjakan 4 orang untuk mengolah 2 pohon sagu selama 6 hari. Jika setiap basong setara dengan 8,33 kg sagu kering dengan harga ± Rp.1.500/kg maka pendapatan kotor setiap orang hanya berkisar Rp.6.250/hari dengan kapasitas olah 4 pohon/bulan (usaha sampingan). Kalau petani dapat bekerja 300 hari per tahun secara rutin (usaha pokok) maka pendapatan petani menjadi Rp.25.000 per hari atau naik 4 kalinya. Bandingkan jika menggunakan alat semi mekanis dimana 2 pohon sagu tersebut dapat diolah dalam 1 hari menghasilkan ± 300 kg tepung sagu kering. Dengan demikian pendapatan petani dapat meningkat kurang lebih menjadi Rp.75.000/hari yang lebih berarti naik 12 kali dari keadaan saat ini. Dari kasus tersebut diatas jelas bahwa pembenahan masalah rendahnya pengetahuan masyarakat pengrajin sagu terhadap teknik pengolahan sagu merupakan hal yang sangat penting dan diprioritaskan. Caranya adalah menciptakan suatu usaha atau metode ekstraksi tepung sagu yang lebih efesien dari yang ada saat ini di masyarakat. Sentuhan teknologi dibuat sedemikian rupa sehingga potensi areal sagu yang cukup luas itu dapat di manfaatkan sebagai potensi bahan baku yang dapat diolah secara seimbang untuk memproduksi tepung sagu siap pakai. Sentuhan teknologi tersebut dapat dilakukan melalui alat ekstraksi tepat guna (murah, efesien dan praktis). Tulisan ini bertujuan memperkenalkan cara penerapan teknologi ekstraksi yang dapat meningkatkan produksi tepung sagu pada industri kecil/masyarakat pengrajin sagu seperti yang telah diujicobakan di Kabupaten Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Teknologi ekstraksi merupakan cara untuk mengeluarkan/melepaskan pati dari serat (sel) tanaman dengan bantuan air. Cara ini merupakan rangkaian kegiatan penghancuran empulur, pembuatan slurry , pengadukan, penyaringan dan pengendapan. Ekstraksi (pengolahan) pati sagu yang dipakai oleh industri kecil/pengrajin sagu adalah ekstraksi tradisional memiliki keseluruhan kegiatan tersebut diatas yang digerakan dengan tenaga manusia (manual) sehingga memiliki produktivitas yang rendah. Sebaliknya ekstraksi pati sagu yang memiliki sebagian kegiatan yang digerakkan dengan tenaga mekanis produktivitasnya tinggi. Dalam ujicoba penerapan teknologi ekstraksi semi mekanis (kapasitas olah 1,5 ton empulur/ hari) akan memiliki keunggulan dibanding ekstraksi tradisional yang juga diberi bobot empulur yang sama. Keunggulan tersebut berupa waktu proses lebih singkat, efisiensi proses lebih besar dan hasil olahan (pati kering) juga lebih besar. Kondisi ini di sebabkan pemakaian alat proses terutama kinerja parut yang mampu menghancurkan empulur sagu dibawah 0,5 cm sehingga pati sagu mudah terbawa ke fase air pada waktu pengadukan. Penerapan teknologi ekstraksi semi mekanis juga mampu memperbesar tingkat produksi sebesar 90 ton pati kering/th atau 15 kali lebih besar dibanding dengan ekstraksi tradisional. Dengan nilai jual pati kering sebesar Rp.1.500 /kg maka tingkat pendapatan pengrajin yang menggunakan ekstraksi semi mekanis akan mencapai Rp.75.000/orang/hari atau 12 kali lebih besar dibanding pengrajin yang menggunakan ekstraksi tradisional. 2. S a r a n Penerapan teknologi ekstraksi semi mekanis yang telah di ujicoba di Kabupaten Kendari tersebut memiliki fungsi pelatihan terhadap para pengrajin tradisional, sehingga bahan-bahan konstruksi dipilih yang kuat dan mahal. Investasinya cukup besar untuk keperluan industri kecil. Untuk keperluan pengembangannya disarankan modifikasi bentuk, jenis dan kapasitas prasarana/ sarananya sehingga investasinya ditekan sekecil mungkin tanpa menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kinerja yang telah ada. Tingkat produksi pada penggunaan ekstraksi semi mekanis jauh lebih besar dibanding dengan ekstraksi tradisional. Hal ini tidak semata-mata disebabkan penggunaan tenaga mesin pada beberapa bagian proses pengolahan tapi juga disebabkan oleh cara kerja pengrajin yang tidak rutin/kerja sampingan. Disarankan agar ada lembaga profesi yang menangani hasil olahannya berapapun jumlahnya sehingga dapat merangsang masyarakat/pengrajin sagu menekuni usahanya secara rutin.